Istilah ini sangat populer dalam hubungan percintaan maupun pertemanan.

Contoh: “Dia ghosting gue setelah sebulan PDKT.”

Iklan

FOMO

“FOMO” merupakan singkatan dari fear of missing out. Istilah ini menggambarkan rasa takut tertinggal tren, informasi, atau pengalaman orang lain.

Fenomena ini sering muncul akibat media sosial.

Contoh: “Aku ga terlalu paham lagunya si, FOMO aja.”

JOMO

Jika FOMO berarti takut tertinggal, “JOMO” atau joy of missing out justru menggambarkan rasa nyaman saat memilih menikmati waktu sendiri.

Contoh: “Weekend ini JOMO aja di rumah.”

Cringe

“Cringe” menggambarkan rasa malu, risih, atau tidak nyaman saat melihat sesuatu yang terasa canggung dan berlebihan.

Contoh: “Videonya cringe banget ih.”

Flex

Gen Z memakai kata “flex” saat seseorang memamerkan pencapaian, barang mahal, atau pengalaman tertentu di media sosial.

Contoh: “Dia lagi flex liburan ke Aussie.”

Sus

“Sus” berasal dari kata suspicious yang berarti mencurigakan. Biasanya, istilah ini dipakai ketika sesuatu terasa aneh atau janggal.

Contoh: “Gesturnya sus banget.”

Main Character

Istilah “main character” menggambarkan seseorang yang hidup penuh percaya diri seolah dirinya tokoh utama dalam cerita.

Biasanya, istilah ini bernuansa positif dan motivasional.

Contoh: “Dia punya main character energy.”

Rizz

“Rizz” berarti pesona atau kemampuan seseorang menarik perhatian secara romantis.

Contoh: “Dia punya rizz alami.”

Simp

“Simp” merujuk pada seseorang yang terlalu berlebihan memberi perhatian kepada orang yang disukai.

Biasanya, istilah ini dipakai dalam konteks bercanda.

Contoh: “Dia simp banget sama gebetannya.”

Red Flag

Gen Z memakai istilah “red flag” untuk menyebut tanda bahaya dalam perilaku seseorang, terutama dalam hubungan.

Contoh: “Jangan sama dia deh, red flag, omongannya kasar.”

Green Flag

Kebalikan dari red flag, “green flag” menggambarkan sifat positif yang sehat dan layak dipertahankan.

Contoh: “Dia green flag banget karena selalu menghargai orang lain.”

POV

“POV” atau point of view berarti sudut pandang tertentu dalam sebuah cerita atau video.

Istilah ini sangat sering muncul di konten media sosial.

Contoh: “POV: lu lagi diem, tiba-tiba otak lu ngejokes.”

Healing

“Healing” menjadi istilah populer untuk menggambarkan aktivitas melepas stres atau menenangkan pikiran.

Contoh: “Pusing? healing dulu lah ke pantai.”

Oversharing

“Oversharing” berarti membagikan terlalu banyak informasi pribadi di media sosial atau ruang publik.

Contoh: “Dia suka oversharing di SW.”

Tea

Dalam bahasa gaul Gen Z, “tea” berarti gosip atau cerita menarik.

Contoh: “Spill the tea dong.”

Touch Grass

Gen Z memakai frasa “touch grass” untuk menyindir seseorang yang terlalu larut di dunia digital agar kembali menikmati kehidupan nyata.

Contoh: “Main game terus, touch grass dulu sana.”

Soft Launch dan Hard Launch

“Soft launch” berarti memperkenalkan pasangan atau sesuatu secara samar di media sosial tanpa penjelasan langsung.

Sementara itu, “hard launch” berarti mengumumkan hubungan secara resmi dan terbuka.

Contoh soft launch: “Dia upload foto gandengan tangan doang.”

Contoh hard launch: “Akhirnya hard launch pacarnya.”

Burnout

“Burnout” menggambarkan kondisi kelelahan fisik dan mental akibat tekanan berlebihan.

Istilah ini sering muncul dalam dunia kerja maupun pendidikan.

Contoh: “Gue burnout nih, lembur mulu.”

Valid

Gen Z memakai kata “valid” untuk mengakui bahwa perasaan seseorang masuk akal dan layak dipahami.

Contoh: “Perasaan kamu valid kok.”

Bahasa Gaul Gen Z Terus Berkembang

Media sosial membuat bahasa gaul Gen Z terus berubah dan berkembang sangat cepat. Istilah yang viral hari ini bisa langsung masuk ke percakapan sehari-hari dalam waktu singkat.

Selain membuat komunikasi terasa lebih santai, bahasa gaul juga mencerminkan budaya digital generasi muda saat ini. Karena itu, memahami istilah Gen Z dapat membantu seseorang lebih mudah mengikuti tren dan memahami percakapan di media sosial.

(naf/lex)