MOJOKERTO, ifakta.co – Situs makam Putri Campa dan Raja Majapahit Brawijaya V yang berada di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kembali mendapat kunjungan peziarah. Salah satunya adalah Raden Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo, S.H., M.H., Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon (FRN) sekaligus praktisi hukum senior di DKI Jakarta.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tradisi ziarah yang menurut keterangan pihak keluarga dan pengelola makam dilakukan secara berkala, sekitar dua hingga tiga tahun sekali. Dalam kesempatan itu, Agus melakukan tabur bunga di area makam yang dikenal sebagai salah satu situs bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit.

Juru kunci makam, Roro Mariam, mengatakan kedatangan Agus kerap dikenali melalui keberadaan bunga segar yang ditaburkan di makam Putri Campa dan Brawijaya V.

“Para tamu ziarah biasanya mengetahui ketika bunga segar sudah terlihat di makam Eyang Raja Majapahit dan Eyang Putri Campa. Mereka memahami bahwa cucunya, Mas Agus, kembali datang berziarah,” ujar Roro Mariam.

Roro Mariam yang mengaku sebagai keturunan Brawijaya tujuh generasi juga menjelaskan bahwa pihaknya selalu menyiapkan bunga apabila Agus datang berziarah.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap leluhur dan sejarah keluarga yang selama ini dijaga oleh pihak pengelola makam.

Ia juga menceritakan pengalaman spiritual yang menurut pengakuannya berkaitan dengan sosok Putri Campa, baik melalui mimpi maupun pengalaman pribadi. Namun, cerita tersebut merupakan penuturan dan keyakinan pribadi Roro Mariam.

Disebut Berusia Ratusan Tahun

Roro Mariam menyebut kompleks makam tersebut telah berdiri sekitar 600 tahun dan berada di kawasan Trowulan yang dikenal sebagai pusat peninggalan peradaban Kerajaan Majapahit.

Kawasan Trowulan sendiri memiliki nilai historis penting dalam perjalanan sejarah Nusantara. Sejumlah peninggalan arkeologis di wilayah tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang dilindungi dan diteliti.

Lebih lanjut, Roro Mariam menyampaikan bahwa upaya pemugaran dan perhatian terhadap situs makam tersebut telah berlangsung sejak masa pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Ia juga menyebut situs tersebut pernah dikunjungi sejumlah presiden Indonesia, mulai dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), hingga Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Sejak zaman Presiden Soekarno, situs ini sudah dikunjungi. Kemudian Presiden Soeharto bersama Ibu Tien, dilanjutkan Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati,” ungkapnya.

Menurut Roro Mariam, kawasan bersejarah di sekitar Kolam Segaran tersebut juga kerap menjadi tujuan kunjungan pejabat dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengenal lebih dekat peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit.

Menyinggung Makam Pasukan Bhayangkara Majapahit

Dalam keterangannya, Roro Mariam turut menyebut adanya makam yang dikaitkan dengan pasukan elite Bhayangkara pada masa Kerajaan Majapahit. Ia juga mengungkapkan bahwa dua tokoh yang disebut sebagai panglima perang Gajah Mada dimakamkan di kawasan tersebut.

Namun, informasi mengenai identitas tokoh, hubungan historis dengan pasukan Bhayangkara, serta riwayat pemakamannya masih memerlukan penelusuran dan verifikasi sejarah lebih lanjut.

Roro Mariam juga menyoroti bahwa menurut pengamatannya, kawasan makam tersebut masih jarang dikunjungi oleh jajaran Kepolisian Republik Indonesia.

Keterangan itu menjadi catatan tersendiri, mengingat nama Bhayangkara memiliki keterkaitan historis dengan tradisi pasukan pengawal dan keamanan pada masa Kerajaan Majapahit.

Keberadaan situs-situs bersejarah seperti kompleks makam Putri Campa dan Brawijaya V menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya Nusantara. Selain sebagai tempat ziarah, peninggalan sejarah juga membutuhkan perhatian, penelitian, serta pelestarian agar nilai sejarahnya dapat terus dikenal oleh generasi mendatang.

(sib/lex)