BANYUMAS, ifakta.co – Sebanyak 151 pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini memiliki wadah bersama.

Mereka membentuk Paguyuban Mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) Banyumas. Organisasi tersebut menjadi ruang komunikasi sekaligus tempat para mitra berbagi pengalaman dalam mengelola dapur MBG.

Pembentukan paguyuban berlangsung di Pendopo Si Panji Purwokerto. Para pemilik SPPG sekaligus memilih pengurus untuk periode 2026–2029.

Iklan

Ketua Paguyuban Mitra MBG Banyumas Suharjono mengatakan, para pemilik SPPG menggagas organisasi itu secara mandiri. Menurut dia, pemerintah tidak mengarahkan pembentukan paguyuban tersebut.

“Ini inisiatif sendiri karena kami sebagai pemilik dapur, memang sering kumpul-kumpul bareng, diskusi bareng,” kata Suharjono seusai pelantikan pengurus.

Saat ini, Banyumas memiliki sekitar 218 mitra MBG. Namun, baru 151 mitra yang bergabung dalam paguyuban. Suharjono menyebut pemilik SPPG lain masih memiliki kesempatan untuk bergabung.

“Yang sudah terdaftar kurang lebih 151 dari 218 mitra. Ini baru, yang lainnya menyusul,” ujarnya.

Selain menjadi tempat bertukar informasi, paguyuban juga akan mendorong keseragaman pengelolaan SPPG. Para anggota akan membahas standar dapur, bahan baku, proses memasak, kemampuan tenaga masak, hingga sistem pengawasan.

Langkah tersebut muncul karena setiap dapur memiliki pola pengelolaan yang berbeda. Suharjono menilai kondisi itu perlu mendapat perhatian agar kualitas makanan MBG tetap terjaga.

“Tujuannya, karena kita sesama mitra ya, standar dapur itu sebetulnya harusnya sama, harus standar,” katanya.

Ia juga menyoroti perbedaan kualitas bahan baku dan masakan antardapur. Kemampuan koki serta pola pengawasan juga belum seragam.

“Yang kedua, mungkin kualitas baik bahan baku, terus masakan, terutama kokinya dan sebagainya itu kadang-kadang masih bervariasi,” kata Suharjono.

“Termasuk, cara pengawasan di dapur, ada yang sangat ketat, ada yang tidak.”

Karena itu, paguyuban ingin membangun komunikasi yang lebih aktif antarpemilik SPPG. Para anggota dapat saling bertukar pengalaman dan mencari solusi atas persoalan yang muncul dalam pengelolaan dapur.

“Nah, ini kami bikin wadah, itu wadah komunikasi antar-mitra, saling bertukar pengalaman,” ujarnya.

Suharjono menegaskan, paguyuban tidak sekadar mengejar kepentingan organisasi. Menurut dia, keberadaan wadah tersebut harus bermuara pada peningkatan kualitas makanan yang keluar dari dapur MBG.

Bupati Dorong SPPG Perkuat Rantai Pasok Lokal

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyambut pembentukan Paguyuban Mitra MBG. Ia menilai para pemilik SPPG perlu memiliki ruang komunikasi agar tidak menjalankan program secara sendiri-sendiri.

Menurut Sadewo, paguyuban juga dapat membantu para mitra saling mengawasi dan menjaga kualitas pelaksanaan MBG.

“Kalau saya cuma dukung aja supaya jalannya tidak sendiri-sendiri. Kemudian saling kontrol,” kata Sadewo yang hadir dalam pembentukan paguyuban.

Selain kualitas makanan, Sadewo menyoroti dampak ekonomi dari keberadaan dapur MBG. Ia berharap program tersebut ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat Banyumas.

“Bahwa semangatnya pendirian dapur dari Pak Presiden, saya punya keyakinan menghidupkan perekonomian penduduk setempat, salah satunya itu,” ujarnya.

Namun, Sadewo menilai manfaat ekonomi tersebut belum sepenuhnya terasa. Ia masih menemukan kebutuhan dapur MBG yang berasal dari luar daerah atau melalui tengkulak.

Padahal, menurut dia, SPPG dapat memanfaatkan bahan pangan dari pasar lokal. Dengan begitu, program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga membuka pasar bagi petani dan pedagang Banyumas.

Sadewo mencontohkan gerai hasil pertanian di Pasar Ajibarang. Gerai tersebut bekerja sama dengan tujuh petani muda dan menawarkan berbagai produk pertanian.

Selain itu, gerai tersebut membeli hasil pertanian petani dengan harga lebih tinggi. Namun, mereka tetap mampu menawarkan bahan pangan dengan harga yang terjangkau bagi dapur MBG.

“Makanannya fresh, dia sudah kerja sama dengan tiga atau empat dapur.”

“Baru di Pasar Ajibarang.”

“Saya mengharapkan minimal mendirikan di 10 pasar,” kata Sadewo.

Menurutnya, pola tersebut dapat membangun rantai pasok yang memberi manfaat kepada berbagai pihak. Petani memperoleh pasar, pedagang mendapat peluang usaha, sedangkan dapur MBG memperoleh bahan pangan lokal.

Karena itu, Sadewo berharap model serupa dapat berkembang di lebih banyak wilayah Banyumas. Ia juga menyinggung keluhan sejumlah pedagang pasar setelah dapur MBG mulai beroperasi.

“Selama ini, berdiri dapur MBG dari awal, yang ada pedagang pasar telepon saya, mengeluh, bukannya tambah laris dagangannya, tapi tambah kacau,” katanya.

Dengan demikian, pembentukan Paguyuban Mitra MBG Banyumas tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan dapur. Wadah tersebut juga dapat menjadi ruang koordinasi untuk memperbaiki kualitas makanan sekaligus memperkuat hubungan SPPG dengan pelaku usaha lokal.

Sadewo pun berharap semangat awal program MBG dapat berjalan lebih luas. Selain memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, program tersebut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar SPPG.

Iklan