JAKARTA, ifakta.co – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Penurunan terjadi setelah harga minyak sempat melonjak sekitar 4% pada sesi sebelumnya.
Pasar merespons pernyataan pejabat Iran yang menyebut Teheran masih membuka peluang diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Namun, Iran dan AS masih memiliki perbedaan pandangan mengenai cara mengakhiri konflik tersebut.
Pada pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 turun 94 sen atau 0,9% menjadi US$102,13 per barel.
Iklan
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 melemah 59 sen atau 0,7%. Harga WTI berada di level US$91,56 per barel.
Menurut seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Rabu, Teheran dan Washington masih berbeda pendapat mengenai langkah untuk mengakhiri perang. Meski demikian, pejabat tersebut menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap perlu dilanjutkan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Iran menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB. Dalam pidatonya, Presiden Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerah terhadap tekanan dari Amerika Serikat.
Iran kini masih mempelajari tanggapan Washington terhadap proposal perdamaian yang diajukan Teheran. Proposal tersebut antara lain memprioritaskan pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut AS menjadi salah satu pembahasan dalam perundingan tidak langsung yang berlangsung pada Selasa, menurut pejabat Iran tersebut.
Sebelumnya, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali apabila persyaratan yang diajukan Iran belum terpenuhi.
Dari sisi Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa kesepakatan dengan Iran membutuhkan proses dan kerja keras dalam periode tertentu.
Rubio juga menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump masih memiliki opsi militer dalam menghadapi situasi tersebut.
Perkembangan diplomasi dan konflik AS-Iran menjadi perhatian pasar minyak karena situasi di kawasan dapat memengaruhi pasokan energi global. Karena itu, investor terus mencermati setiap perkembangan terkait Selat Hormuz dan kebijakan kedua negara.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga memperhatikan kemungkinan pembatasan ekspor solar dari Amerika Serikat.
Harga minyak diesel ultra-low sulfur sempat turun sekitar 5% pada perdagangan tengah hari. Penurunan tersebut terjadi setelah Politico melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang menyiapkan rencana larangan penggunaan bahan bakar diesel selama 90 hari.
Namun, Gedung Putih membantah laporan mengenai rencana tersebut.
Tidak lama kemudian, Bloomberg melaporkan berdasarkan sumber bahwa Menteri Energi AS Chris Wright meminta para pemimpin industri minyak bersiap menghadapi kemungkinan pembatasan ekspor solar oleh pemerintah AS pada Selasa malam.
Sebelumnya, Wright mengatakan larangan ekspor solar tidak akan efektif. Pernyataan itu disampaikan meski Trump menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut.
Sejumlah analis dan pengamat pasar juga telah memperingatkan potensi dampak kebijakan tersebut. Menurut mereka, pembatasan ekspor solar tidak akan banyak membantu menurunkan harga energi yang tinggi.
Sebaliknya, kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengurangi pasokan di pasar global dan memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut menjadi perhatian investor.
Badan Informasi Energi AS atau EIA mencatat persediaan minyak mentah Amerika Serikat bertambah 3 juta barel pada pekan lalu. Dengan kenaikan tersebut, stok minyak mentah AS mencapai 426,4 juta barel.
Data tersebut berbeda dengan hasil survei analis Reuters. Para analis sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah AS justru turun sekitar 641.000 barel.
Sementara itu, persediaan bahan bakar tercatat mengalami penurunan.
Pergerakan harga minyak dunia selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan diplomasi AS-Iran, kondisi di Selat Hormuz, kebijakan ekspor energi Amerika Serikat, serta data persediaan minyak dan bahan bakar.
(den/joj)



