BANTEN, ifakta.co – Gubernur Banten Andra Soni mengungkapkan sebanyak 140 titik di empat kabupaten dan kota di Provinsi Banten mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau ekstrem yang melanda pada 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Andra Soni usai menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Selasa (29/7/2026).
“Wilayah Provinsi Banten tercatat ada sekitar 140 titik di berbagai kabupaten/kota di luar Kota Tangerang yang belum mencatatkan data kekeringan, itu mengalami krisis air bersih,” kata Andra Soni.
Iklan
Menurutnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang terpanjang dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu meningkatnya potensi kekeringan di sejumlah daerah sehingga berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Andra menjelaskan, wilayah terdampak tersebar di empat kabupaten dan kota di Provinsi Banten. Sementara itu, hingga saat ini Kota Tangerang belum melaporkan adanya wilayah yang mengalami dampak kekeringan.
“Tapi yang pasti saat ini di daerah, kami sudah melakukan beberapa upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Seperti contoh di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang sudah berikan bantuan,” tuturnya.
Sebagai langkah penanganan darurat, Pemerintah Provinsi Banten bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus mempercepat distribusi bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak.
Selain itu, pasokan air bersih melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga terus dioptimalkan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Andra memastikan pemerintah akan terus mengupayakan suplai air bersih setiap hari ke daerah-daerah yang mengalami kesulitan mendapatkan akses air.
Di sisi lain, Pemprov Banten juga menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya dengan berkoordinasi bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna melakukan penelitian titik kedalaman tanah sebagai dasar pembangunan sumur bor baru.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketersediaan air bersih, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau.
“Kami menghimbau seluruh aparat dan pihak terkait untuk terus memantau serta menindaklanjuti setiap laporan kekeringan di lapangan,” tuturnya.
Andra menambahkan, sejumlah wilayah di Provinsi Banten memiliki karakteristik cuaca yang cukup ekstrem. Saat musim kemarau, daerah-daerah tersebut rentan mengalami kekeringan. Sebaliknya, ketika musim hujan tiba, wilayah yang sama berpotensi terdampak banjir.
Karena itu, ia menilai sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar masyarakat tetap mendapatkan hak dasar mereka, khususnya ketersediaan air minum di tengah cuaca ekstrem ini,” kata dia.
(seb/lex)



