JAKARTA, ifakta.co – Laptop dan komputer pabrikan bukan lagi satu-satunya pilihan bagi pencinta teknologi. Belakangan ini, semakin banyak anak muda, terutama Generasi Z, justru tertarik merakit perangkat komputernya sendiri melalui konsep cyberdeck. Perangkat ini menawarkan kebebasan dalam desain, fungsi, hingga komponen yang digunakan.

Berbeda dengan laptop konvensional, cyberdeck hadir dengan tampilan yang unik. Sebagian menggunakan koper bekas, kotak kayu, tas lawas, bahkan kaleng sebagai casing. Selain itu, setiap perangkat memiliki karakter yang berbeda karena pembuatnya bebas menentukan fitur sesuai kebutuhan.

Tren cyberdeck pun ramai muncul di TikTok, Reddit, hingga YouTube. Banyak kreator membagikan proses perakitan sekaligus memperlihatkan hasil akhirnya yang bergaya retro-futuristik. Tak heran, perangkat ini semakin menarik perhatian Gen Z yang menyukai kreativitas sekaligus teknologi.

Iklan

Apa Itu Cyberdeck?

Cyberdeck merupakan komputer portabel rakitan yang dibuat sendiri menggunakan berbagai komponen, seperti single-board computer (misalnya Raspberry Pi), layar kecil, keyboard mekanis, baterai, dan casing hasil modifikasi.

Konsep cyberdeck sebenarnya bukan hal baru. Ide ini sudah muncul dalam novel fiksi ilmiah Neuromancer karya William Gibson. Dalam cerita tersebut, cyberdeck digambarkan sebagai komputer portabel yang digunakan para peretas untuk mengakses dunia maya.

Kini, konsep tersebut berkembang menjadi proyek do-it-yourself (DIY). Siapa pun dapat merakit perangkat sesuai kebutuhan tanpa harus mengikuti desain atau spesifikasi pabrikan.

Mengapa Cyberdeck Digemari Gen Z?

Popularitas cyberdeck bukan hanya karena tampilannya yang berbeda. Ada sejumlah alasan yang membuat perangkat ini semakin diminati.

1. Desain Bebas Sesuai Kreativitas

Cyberdeck memberi kebebasan penuh kepada pembuatnya. Tidak ada aturan baku mengenai bentuk maupun tampilannya.

Sebagian orang membuat cyberdeck berbentuk koper bergaya militer. Ada pula yang memakai kotak perhiasan, tas bekas, mesin tik lawas, konsol game retro, hingga kotak catur. Bahkan, beberapa kreator menambahkan panel surya, kipas mini, lampu LED, atau indikator baterai agar tampil semakin unik.

Karena itu, setiap cyberdeck menjadi perangkat yang sangat personal dan tidak memiliki bentuk yang sama.

2. Fungsi Bisa Disesuaikan Kebutuhan

Cyberdeck tidak hanya berfungsi sebagai komputer biasa. Pembuatnya bebas menentukan kemampuan perangkat sesuai kebutuhan.

Banyak pengguna memanfaatkannya untuk bermain game klasik, belajar pemrograman, menulis, menjalankan server pribadi, menyimpan data offline, hingga mengakses berbagai dokumen digital tanpa koneksi internet.

Sebagian penghobi radio bahkan memanfaatkan cyberdeck untuk berkomunikasi melalui gelombang radio. Sementara itu, komunitas keamanan siber sering menggunakan perangkat ini sebagai media belajar dan pengujian sistem secara portabel.

3. Mengurangi Ketergantungan pada Internet

Salah satu daya tarik cyberdeck ialah kemampuannya bekerja secara offline.

Pengguna dapat menyimpan koleksi buku digital, musik, peta, artikel, hingga berbagai dokumen penting tanpa harus selalu terhubung ke internet. Cara ini membantu mengurangi gangguan notifikasi sekaligus meningkatkan fokus saat belajar maupun bekerja.

4. Memanfaatkan Barang Bekas

Mayoritas cyberdeck menggunakan komponen lama yang masih layak pakai.

Keyboard, monitor kecil, casing komputer, koper bekas, maupun kotak penyimpanan dapat memperoleh fungsi baru melalui proses perakitan. Pendekatan ini membantu mengurangi limbah elektronik sekaligus menekan biaya pembuatan perangkat.

Karena itu, banyak penggemar cyberdeck menganggap proyek ini sebagai bentuk upcycle, yaitu memanfaatkan kembali barang bekas menjadi produk yang bernilai.

5. Meningkatkan Literasi Teknologi

Merakit cyberdeck bukan sekadar menghasilkan perangkat unik. Proses tersebut juga membantu seseorang memahami cara kerja komputer secara lebih mendalam.

Pembuat akan belajar mengenali komponen perangkat keras, memasang sistem operasi, menghubungkan modul elektronik, hingga melakukan pemrograman sederhana. Pengalaman tersebut membuat kemampuan teknis berkembang secara bertahap.

6. Menjadi Bentuk Ekspresi Diri

Bagi banyak Gen Z, cyberdeck bukan sekadar komputer rakitan.

Perangkat ini menjadi media untuk menampilkan identitas, kreativitas, sekaligus gaya personal. Filosofi tersebut membuat cyberdeck berbeda dari laptop produksi massal yang memiliki desain seragam.

Sebagian kreator bahkan menilai cyberdeck sebagai bentuk penolakan terhadap budaya konsumtif. Mereka lebih memilih merakit perangkat sendiri daripada terus membeli produk baru setiap kali teknologi berkembang.

Cyberdeck Lebih dari Sekadar Komputer Rakitan

Cyberdeck memang belum menggantikan laptop sebagai perangkat utama untuk bekerja maupun belajar. Namun, tren ini menunjukkan bahwa semakin banyak anak muda ingin memahami teknologi secara lebih dekat, bukan sekadar menjadi pengguna.

Selain menghadirkan kebebasan berkreasi, cyberdeck juga mendorong budaya DIY, memanfaatkan kembali barang bekas, serta meningkatkan literasi teknologi. Karena itulah, perangkat ini terus menarik perhatian komunitas teknologi di berbagai negara dan diperkirakan akan semakin berkembang di masa mendatang.

(naf/lex)

Iklan