YOGYAKARTA, ifakta.co – Masalah kesehatan mental terus menjadi perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Remaja dan dewasa muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kecemasan.

Hal tersebut disebabkan oleh tekanan akademik, lingkungan sosial, hingga derasnya arus informasi di era digital. Melihat kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi yang menggabungkan pendekatan nutrisi dan teknologi sebagai upaya pencegahan sejak dini.

Tim tersebut terdiri atas Ikhlasul Amal dari Fakultas Biologi, Qorina Nisrina Hafshah dari Fakultas Teknologi Pertanian, Zikra Fataha Al Mutansir dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Diva Nadiartalika, serta Athar Rosyad Partadireja dari Fakultas Psikologi.

Iklan

Inovasi yang mereka kembangkan berangkat dari meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari satu miliar orang hidup dengan gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi dua kondisi yang paling sering muncul. Bahkan, keduanya dapat meningkatkan risiko seseorang mengakhiri hidup.

Di Indonesia, laporan Global Health Observatory WHO tahun 2021 mencatat angka bunuh diri mencapai 2,4 kasus per 100.000 penduduk. Namun, penelitian Sandersan Onie dari University of New South Wales yang terbit dalam The Lancet Regional Health–Southeast Asia pada 2024 memperkirakan jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi.

Berangkat dari tantangan tersebut, tim mahasiswa UGM merancang solusi yang berfokus pada pencegahan. Mereka ingin membantu generasi muda mengenali serta mengelola kecemasan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

Salah satu inovasi yang lahir dari penelitian itu bernama CalmBar. Produk tersebut berupa snack bar fungsional yang memadukan konsep nutritional neuroscience dengan pendekatan sensory grounding.

CalmBar memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti kacang hijau, biji labu, duckweed, kacang tanah, peppermint, madu, kismis, serta Virgin Coconut Oil (VCO). Seluruh bahan itu mengandung protein nabati, magnesium, zat besi, antioksidan, hingga senyawa bioaktif seperti GABA, triptofan, dan mentol yang berpotensi membantu menjaga fungsi sistem saraf sekaligus mendukung kestabilan suasana hati.

“Kami mengembangkan sebuah model inovatif yang menggabungkan pendekatan pangan fungsional dan sistem metakognitif digital. Tujuannya untuk membantu generasi muda membangun kemampuan regulasi diri secara lebih komprehensif,” ujar Ikhlasul Amal, Rabu (1/7).

Padukan Nutrisi, Teknologi, dan Kesadaran Diri

Amal menjelaskan bahwa gangguan kecemasan tidak hanya berkaitan dengan pola makan. Sebaliknya, tekanan psikologis akibat penggunaan media sosial juga ikut memengaruhi kondisi mental banyak remaja.

Perbandingan sosial, tuntutan lingkungan, serta perasaan seolah selalu menjadi perhatian orang lain atau spotlight effect sering memicu kecemasan berkepanjangan. Karena itu, tim tidak hanya menawarkan solusi berbasis nutrisi.

Mereka juga mengembangkan SELF-SCAN atau Self-Scan: A Youth-Driven Ecological Metacognitive System for Addressing the Global Youth Anxiety Crisis in the Digital Era. Sistem berbasis aplikasi tersebut membantu pengguna mengenali pola pikir, emosi, serta faktor pemicu kecemasan secara langsung.

SELF-SCAN memanfaatkan pendekatan Ecological Momentary Assessment (EMA). Melalui metode tersebut, aplikasi mampu memantau kondisi psikologis pengguna dalam aktivitas sehari-hari. Setelah itu, sistem memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pengguna.

Menurut Amal, CalmBar dan SELF-SCAN saling melengkapi. CalmBar membantu menciptakan kondisi emosional yang lebih tenang melalui asupan nutrisi dan pengalaman sensoris. Sementara itu, SELF-SCAN mendorong pengguna membangun kesadaran metakognitif agar mampu memahami pola pikir yang memicu rasa cemas.

“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu seseorang merasa lebih baik secara sesaat, tetapi juga membantu mereka memahami dirinya sendiri. Kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi gejala, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses berpikir serta respons emosional secara mandiri,” jelas Amal.

Integrasi kedua inovasi itu juga tampak pada fitur pendukung yang tersedia. Kemasan CalmBar menyajikan panduan breathing exercise serta teknik grounding 5-4-3-2-1 untuk membantu pengguna mengendalikan emosi. Selanjutnya, SELF-SCAN memperkuat proses tersebut melalui fitur Algorithmic Trigger Radar, The Auditor, dan Pattern Intelligence yang membantu mengenali pemicu kecemasan, melakukan refleksi diri, sekaligus membangun ketahanan mental dalam jangka panjang.

Tim mahasiswa UGM berharap pendekatan tersebut mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesehatan mental. Mereka ingin mendorong upaya pencegahan, bukan sekadar penanganan setelah gangguan muncul.

Inovasi tersebut berhasil menarik perhatian dalam ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Mei 2026. Tim UGM membawa pulang Silver Medal Theme Sub Health, Silver Medal Sub Theme Food, serta Favorite Poster Theme Sub Food.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas disiplin mampu menghasilkan solusi yang relevan terhadap persoalan kesehatan mental. Selain memperoleh penghargaan, tim juga memanfaatkan forum internasional itu untuk bertukar gagasan dengan peserta dari berbagai negara mengenai tantangan yang generasi muda hadapi pada era digital.

Ke depan, tim berharap CalmBar dan SELF-SCAN tidak berhenti sebagai karya kompetisi. Mereka ingin melanjutkan penelitian, menyempurnakan prototipe, lalu menghadirkan inovasi tersebut kepada masyarakat. Melalui perpaduan ilmu biologi, psikologi, teknologi, dan pangan, mereka optimistis solusi ini dapat membantu generasi muda membangun kesehatan mental yang lebih kuat, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman.

(naf/lex)

Iklan