JAKARTA, ifakta.co – Rupiah melemah pada perdagangan Kamis (11/6) sore dan ditutup nyaris menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

Mata uang Garuda berada di level Rp17.988 per dolar AS atau melemah 44 poin (0,25 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Selain itu, pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga bergerak di zona merah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,02 persen, yuan China melemah 0,03 persen, dolar Singapura melemah 0,02 persen, dan won Korea Selatan turun 0,56 persen.

Iklan

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina naik 0,09 persen, yen Jepang menguat 0,02 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.

Sementara itu, pergerakan di kelompok mata uang negara maju menunjukkan variasi. Euro menguat 0,05 persen, poundsterling Inggris naik 0,05 persen, dan franc Swiss menguat 0,04 persen. Namun, dolar Australia melemah 0,04 persen dan dolar Kanada turun 0,16 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan faktor eksternal ikut menekan rupiah.

“Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.988 per dolar AS, tertekan oleh penguatan dolar AS akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Sentimen risk-off di pasar ekuitas domestik dan arus keluar dana asing juga ikut menekan rupiah,” ujar Lukman.

Menurut Lukman, tekanan itu semakin kuat setelah data ekonomi domestik menunjukkan pelemahan penjualan ritel.

“Dari data ekonomi, penjualan ritel yang turun 3,7 persen semakin membebani pergerakan rupiah,” ujarnya.

(den/jo)

Iklan