JAKARTA, ifakta.co – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menggencarkan gerakan pertobatan ekologis nasional untuk menekan volume sampah yang kini mencapai 51 juta ton per tahun.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Jumhur Hidayat menyampaikan seruan itu selepas puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, Sabtu.

“Pertobatan ekologis bukan sekadar kata-kata, tetapi sebuah panggilan untuk merenung dan mengubah cara kita berinteraksi dengan alam,”

Iklan

Jumhur memaparkan kondisi darurat sampah di Indonesia, dengan 74 persen dari total timbulan tahunan belum dikelola secara optimal dan sebagian besar berakhir menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui metode open dumping.

Kementerian LH juga mengonfirmasi hampir seluruh TPA di kabupaten/kota telah melebihi kapasitas tampungan sehingga memicu masalah pengelolaan berkelanjutan.

Akumulasi timbunan sampah yang tidak terpilah memicu pelepasan emisi gas metana dalam skala besar, yang daya rusaknya diperkirakan 30 kali lipat lebih berbahaya dibandingkan gas karbon dioksida (CO2).

Untuk memutus siklus kumpul-angkut-buang yang menyebabkan overload TPA, Jumhur mengajak seluruh lapisan masyarakat mengaktifkan gerakan pemilahan sampah organik dan anorganik mulai dari lingkup rumah tangga.

Ia menginstruksikan jajaran Kementerian LH/BPLH memberikan intervensi masif, antara lain dengan penyediaan kotak sampah dan bibit pohon ke masyarakat di setiap kabupaten/kota.

“Selain tata kelola limbah terpadu yang diarahkan menjadi produk kompos hingga bahan bakar industri (electricity), pilar pertobatan ekologis ini juga diwujudkan melalui peluncuran program penanaman dua miliar pohon di seluruh Indonesia,”

Kementerian LH optimistis gerakan nasional yang bertumpu pada kesadaran publik itu dapat mendukung komitmen Paris Agreement untuk menekan kenaikan suhu global sedekat mungkin pada batas 1,5 derajat Celsius.

Upaya ini juga diharapkan mendorong terciptanya lapangan kerja baru di sektor hijau (green jobs) melalui pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi, seperti produksi kompos dan konversi menjadi bahan bakar industri.

(tio/my)

Iklan