BRUSSELS, Ifakta.co — Perang besar-besaran Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran kini menguras stok rudal kelas atas milik Amerika. Dampaknya, Pentagon mulai membatasi pasokan misil dan rudal pencegat untuk anggota aliansi NATO. Kondisi ini langsung memicu kecemasan mendalam di kalangan sekutu.

Menyikapi krisis tersebut, para petinggi militer aliansi menggelar pertemuan darurat pada Selasa (19/5/2026) di Markas Besar NATO, Brussels. Mereka berkumpul untuk merancang strategi peningkatan produksi senjata dalam skala besar.

Pentagon Habiskan USD 29 Miliar

Selama konflik berlangsung, militer AS menghabiskan amunisi berkualitas tinggi dalam jumlah masif. Mereka mengonsumsi sebagian besar sistem pertahanan udara dan rudal Patriot yang berharga sangat mahal. Data Pentagon per 12 Mei menunjukkan bahwa perang Iran telah menelan biaya lebih dari USD 29 miliar, tanpa ada tanda-tanda gencatan senjata.

Iklan

Kondisi ini membuat sekutu NATO khawatir. Mereka sangsi industri militer mampu memperbarui perangkat keras yang rumit secara tepat waktu, karena AS sendiri sibuk memenuhi kebutuhan konsumsi senjatanya.

Ancaman Nyata di Finladia : Pada 15 Mei, militer Finlandia mendeteksi drone asing yang menyusup ke wilayah udara mereka. Otoritas setempat langsung mengeluarkan peringatan serangan udara dan menutup sementara Bandara Helsinki. Insiden ini membatalkan dan mengalihkan rute banyak penerbangan.

Merespons Ancaman Rusia

Pada pertemuan puncak minggu ini, kepala militer dari 32 negara anggota akan memeriksa dampak penipisan senjata terhadap kemampuan kolektif NATO. Apalagi, Rusia terus menebar ancaman berbahaya terhadap negara-negara sekutu.

Komandan Tertinggi Sekutu Eropa (SACEUR) Jenderal Alexus G. Grynkewich memimpin langsung pertemuan penting hari Selasa ini. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, juga menghadiri rapat tersebut untuk mengawal keputusan strategis aliansi.

[pilihan_redaksi kategori="hukum-kriminal,politik,nasional"]

(fa/fza)