JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Jumat (8/5). Mata uang Garuda ditutup melemah 49 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp17.382 per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat tipis sebesar 0,01 persen, sementara dolar Singapura naik 0,13 persen.

Selain itu, yen Jepang juga mencatat penguatan 0,18 persen dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,03 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Iklan

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia lainnya justru melemah. Won Korea Selatan turun 0,38 persen, peso Filipina terkoreksi 0,34 persen, dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,29 persen terhadap dolar AS.

Mata Uang Global Bergerak Beragam

Pergerakan mata uang negara maju juga menunjukkan tren campuran. Euro Eropa menguat 0,30 persen, poundsterling Inggris naik 0,42 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,35 persen.

Di sisi lain, dolar Kanada turut menguat 0,10 persen, sedangkan franc Swiss naik 0,27 persen terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar masih bergerak hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Sentimen Global Tekan Rupiah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi itu dinilai mengganggu ekspektasi pasar terkait stabilitas jalur perdagangan energi dunia, khususnya Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pasar juga terus memantau arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Pasalnya, sejumlah pejabat The Fed masih memberikan sinyal berbeda terkait inflasi dan langkah suku bunga ke depan.

“Pasar juga fokus menunggu data ketenagakerjaan AS malam nanti yang diperkirakan akan menentukan langkah The Fed selanjutnya terkait kebijakan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, investor turut mencermati kenaikan utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per Maret 2026 atau setara 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Melihat kondisi tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (11/5) masih bergerak fluktuatif dan berpotensi kembali melemah di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.

(den/fza)