BANYUMAS, ifakta.co – Kegiatan Banyumas Ngibing 24 Jam Menari yang berlangsung selama dua hari, 2–3 Mei 2026, di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sukses menarik perhatian publik.
Selain itu, acara ini menghadirkan ribuan penari dari berbagai daerah hingga mancanegara, sehingga memperkuat posisinya sebagai event budaya berskala luas.
Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah, menilai kegiatan ini mampu mendorong sektor wisata budaya sekaligus menjaga keberlangsungan seni tradisi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah.
Iklan
Momentum Edukasi dan Penguatan Identitas Budaya
Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional ini juga menghadirkan nilai edukatif bagi generasi muda. Melalui pertunjukan tari, peserta tidak hanya berkreasi, tetapi juga memperkuat kecintaan terhadap budaya nasional.
“Kami berharap ini menjadi bagian dari kesempatan kita untuk mengembangkan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi yang akan membesarkan dan menghidupkan budaya yang kita miliki,” katanya.
Selain itu, ia melihat konsistensi penyelenggaraan yang telah memasuki tahun kedua sebagai bukti komitmen para pelaku seni dalam merawat tradisi.
Apresiasi untuk Seniman dan Inisiator
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, termasuk penggagas acara, Rianto. Bahkan, ia berharap kegiatan ini terus berkembang dan mampu mencatat prestasi budaya yang membanggakan.
“Budaya adalah salah satu ekosistem dalam kepariwisataan. Karena itu, budaya harus kita pelihara, kita kembangkan, dan kita hidupkan agar bisa menguatkan pariwisata Indonesia,” katanya.
Dukungan Pemajuan Budaya dan Regenerasi
Sementara itu, I Made Dharma Suteja dari Kementerian Kebudayaan juga memberikan apresiasi. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga menguatkan aspek pelindungan, pengembangan, hingga pembinaan budaya.
“Kami sepenuhnya memberi apresiasi yang tinggi kepada Mas Rianto sebagai inisiator kegiatan ini. Menurut kami, kegiatan seperti ini memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi ,karena dilakukan oleh masyarakat lokal,” katanya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda menunjukkan proses pewarisan budaya berjalan aktif dan berkelanjutan.
Ribuan Penari dan Kolaborasi Global
Sepanjang 2–3 Mei 2026, Banyumas Ngibing menghadirkan hampir 1.000 penari, lebih dari 150 pertunjukan, serta 85 komunitas seni. Peserta datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, hingga dari luar negeri seperti Jepang, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.
Selain itu, panitia menghadirkan inovasi baru melalui kolaborasi dengan komunitas pelukis dari Banyumas dan Purbalingga. Dengan demikian, acara ini tidak hanya fokus pada tari, tetapi juga memperluas ruang ekspresi seni.
Meski penari asal Amerika Serikat, Ari Dharminalan Rundeko, belum dapat tampil akibat kondisi kesehatan, penyelenggara tetap memastikan acara berjalan lancar.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menjadi modal penting bagi pengembangan Banyumas Ngibing ke depan,” ujar Rianto.
Target Jadi Ikon Budaya Nasional
Rianto menegaskan bahwa Banyumas Ngibing memiliki visi jangka panjang sebagai ikon budaya daerah sekaligus agenda nasional.
“Harapan kami, Banyumas Ngibing ini bisa menjadi ikon budaya Banyumas dan ke depan masuk dalam KEN sebagai agenda nasional,” ujarnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana promosi identitas budaya Banyumas kepada publik yang lebih luas.
“Ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga upaya memperkenalkan identitas budaya Banyumas kepada publik yang lebih luas,” katanya.
Simbol Harmoni dalam Keberagaman
Mengusung tema “Beragam Jiwa-Jiwa yang Menyatu dalam Bumi”, acara ini mempertemukan berbagai latar budaya dalam satu panggung. Selain itu, Banyumas Ngibing juga memperkenalkan kesenian lokal seperti lengger, ebeg, dan cedungan.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan wisata berbasis tradisi di Indonesia.
(naf/kho)




