JAKARTA, ifakta.co — Kenaikan harga sejumlah barang di Indonesia mulai terasa sebagai imbas konflik di Timur Tengah. Dari bahan baku plastik hingga produk kosmetik dan obat-obatan, lonjakan harga memaksa pelaku usaha kecil mengambil langkah bertahan dengan memangkas keuntungan.

Harga nafta—bahan baku utama plastik turunan minyak bumi—dilaporkan melonjak hampir 45 persen dalam satu bulan terakhir. Dampaknya, harga plastik kemasan di sektor industri makanan dan minuman ikut terdongkrak hingga 50 persen.

Pelaku industri petrokimia pun mengakui saat ini berada dalam kondisi “mode bertahan” akibat terganggunya rantai pasok global. Pemerintah disebut tengah mencari alternatif sumber bahan baku di luar kawasan Timur Tengah untuk menekan dampak lebih lanjut.

Iklan

Tak hanya plastik, kenaikan harga juga merambah ke produk suplemen, obat-obatan, hingga kosmetik. Kondisi ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik yang berimbas pada harga minyak dunia.

Para ekonom mengingatkan, jika konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini berkepanjangan tanpa kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan inflasi hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pedagang Terpaksa Menahan Harga

Di tengah tekanan biaya, sejumlah pedagang kecil memilih “mengalah” dengan tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat.

Di Kota Padang, Sumatra Barat, harga gelas plastik ukuran 16 oz naik dari Rp24.000 menjadi Rp29.000 per 50 buah. Sementara ukuran 400 ml melonjak dari Rp14.000 menjadi Rp21.000.

Meliatrisinta (29), pedagang minuman keliling, mengaku tak berani menaikkan harga jual. Ia tetap menjual minuman dengan kisaran Rp5.000 hingga Rp8.000 per gelas.

“Kalau harga dinaikkan atau isi dikurangi, pelanggan bisa komplain. Pembeli saya kebanyakan anak sekolah,” ujarnya.

Senada, Tafrizal (58) mengaku pendapatannya turun drastis hingga 50 persen akibat sepinya pembeli di tengah kenaikan harga bahan baku.

Kenaikan Juga Terjadi di Obat dan Kosmetik

Di sektor kesehatan, harga sejumlah suplemen dan obat di apotek Kota Padang naik hingga 15 persen dalam tiga pekan terakhir. Kondisi ini membuat konsumen mempertanyakan lonjakan harga yang terjadi.

Sementara itu, produk kosmetik juga mengalami kenaikan meski relatif kecil, berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per item.

Jakarta dan Makassar Alami Hal Serupa

Di Jakarta Timur, pedagang seblak Sismiati mengeluhkan lonjakan harga plastik dan styrofoam yang meningkat hampir dua kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.

Meski demikian, ia tetap menahan harga jual demi menjaga pelanggan.

“Pedagang harus mengalah, karena masyarakat juga kesulitan. Gaji tidak naik, tapi harga semua naik,” katanya.

Kondisi serupa terjadi di Makassar. Hastina, pedagang plastik di Pasar Pabaeng-Baeng, menyebut kenaikan harga kali ini jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

“Dulu naik Rp1.000 sampai Rp2.000, sekarang bisa Rp5.000 bahkan lebih,” ujarnya.

Menurutnya, margin keuntungan kini semakin tipis karena harga modal terus meningkat.

Pemerintah Siapkan Kebijakan

Pemerintah telah menyiapkan sejumlah paket kebijakan untuk meredam dampak ekonomi dari konflik global ini. 

Kebijakan tersebut diklaim mampu menghemat anggaran hingga ratusan triliun rupiah.

Namun demikian, sejumlah pihak menilai efektivitas kebijakan tersebut masih perlu diuji, terutama dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

(AMN)