.JAKARTA, ifakta.co – Di balik riuh rendah perdebatan hukum di layar kaca dan tajamnya analisis di kolom-kolom opini, ada sisi lain yang jarang tertangkap kamera—sebuah ketulusan yang hanya bisa dirasakan jika kita duduk cukup dekat. Sebagai jurnalis yang telah melewati berbagai rezim hukum, saya melihat sosok Prof. Dr. Suparji Achmad, S.H., M.H. bukan sekadar akademisi dengan deretan gelar, melainkan seorang pengabdi yang menjaga nyala api keadilan tetap terang.

​Saya teringat sebuah senja di sudut ruang kerjanya yang penuh tumpukan literatur. Di sana, Prof. Suparji tidak bicara tentang ambisi atau panggung kekuasaan. Ia bicara tentang “marwah”. Baginya, hukum bukan sekadar pasal-pasal kaku yang dipahat di atas kertas, melainkan instrumen hidup yang harus menyentuh nurani rakyat kecil.

​1. Integritas yang Tidak Berisik

​Dalam dunia yang sering kali memuja popularitas, beliau memilih jalan yang berbeda. Ketulusannya terlihat dari caranya menyampaikan kritik: tajam namun tetap santun, berani namun terukur. Ia tidak mencari musuh, ia mencari solusi. Sebagai jurnalis, saya sering menemui narasumber yang bicara demi kepentingan, namun pada Prof. Suparji, saya menemukan kejernihan niat untuk mengedukasi bangsa.

Iklan

​2. Guru bagi Semua Golongan

​Pengabdiannya tidak terbatas di ruang kelas universitas. Ia adalah “guru” bagi siapa saja yang haus akan kebenaran. Ketulusan itu nampak saat ia dengan sabar membedah rumitnya teori pertanggungjawaban hukum agar mudah dicerna oleh masyarakat awam. Ia meruntuhkan dinding pembatas antara menara gading akademis dan realitas sosial di akar rumput.

​3. Warisan Pemikiran yang Hidup

​”Gelar profesorship bukanlah akhir dari pencarian, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar kepada Tuhan dan kemanusiaan.”

​Kalimat itu seolah menjadi napas dalam setiap langkahnya. Beliau membuktikan bahwa menjadi ahli hukum yang hebat itu penting, tetapi menjadi manusia yang bermanfaat adalah keharusan yang utama.

4.​Dedikasi sejati tak butuh pengakuan

​Melihat perjalanan beliau, kita diingatkan bahwa dedikasi sejati tidak butuh pengakuan yang gegap gempita.

Ketulusan pengabdian Prof. Suparji Achmad adalah cermin bagi kita semua—bahwa di tengah carut-marut dunia hukum, masih ada hati yang tulus bekerja, tangan yang dingin membimbing, dan pikiran yang jernih menerangi jalan kegelapan.
​Ia bukan sekadar profesor hukum; ia adalah penjaga gawang etika yang memastikan bahwa keadilan bukan hanya milik mereka yang berkuasa, tapi hak bagi setiap jiwa yang mencari perlindungan di bawah payung hukum Indonesia.

Ditulis Oleh:
Zulkarnain/jurnalis senior.