YOGYAKARTA, ifakta.co – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menerima hibah buku berjudul “Rest Area: Titik Lebur Estetik, Esai-Esai 45 Tahun (1980–2025)” karya Suwarno Wisetrotomo.

Buku tersebut diserahkan kepada Ketua Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat tradisi intelektual di lingkungan akademik seni rupa.

Penyerahan buku ini menjadi momentum penting dalam memperkaya referensi pemikiran estetika dan kritik seni bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti di lingkungan kampus seni tersebut.

Iklan

Buku Rest Area: Titik Lebur Estetik merupakan kumpulan esai yang ditulis Suwarno Wisetrotomo selama lebih dari empat dekade, sejak 1980 hingga 2025. Melalui berbagai tulisan tersebut, penulis merekam perjalanan panjang refleksi dan pemikirannya mengenai perkembangan seni rupa di Indonesia.

Esai-esai dalam buku tersebut membahas berbagai dinamika dalam praktik seni rupa, mulai dari perubahan wacana estetika, perkembangan praktik artistik, hingga hubungan antara seni, budaya, dan masyarakat.

Kehadiran buku ini di Jurusan Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta diharapkan dapat menjadi salah satu sumber literatur penting bagi sivitas akademika. Selain menambah referensi bacaan, buku tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai berbagai isu estetika yang berkembang dalam praktik seni kontemporer.

Ketua Jurusan Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta menyampaikan apresiasi atas hibah buku yang diberikan oleh Suwarno Wisetrotomo. Ia menilai karya tersebut memiliki peran penting dalam memperkaya perspektif kritis mahasiswa terhadap perkembangan seni rupa.

“Buku ini tidak hanya merekam perjalanan pemikiran selama puluhan tahun, tetapi juga menjadi rujukan penting dalam memahami bagaimana wacana seni rupa berkembang di Indonesia. Kehadirannya akan sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran dan pengembangan kajian seni di kampus,” ujarnya dalam kanal ISI Yogyakarta (13/3).

Suwarno Wisetrotomo dikenal sebagai salah satu pemikir sekaligus kurator seni rupa Indonesia yang aktif menulis serta terlibat dalam berbagai kegiatan kuratorial, kritik seni, dan pengembangan wacana seni rupa.

Melalui buku ini, ia menghadirkan refleksi panjang mengenai praktik seni yang terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

Bagi ISI Yogyakarta, kegiatan hibah buku ini juga mencerminkan kuatnya jejaring intelektual antara praktisi seni, kurator, dan akademisi.

Kolaborasi semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan seni yang tidak hanya menitikberatkan pada praktik artistik, tetapi juga penguatan pemikiran dan diskursus akademik.

Sebagai perguruan tinggi seni yang memiliki peran strategis dalam pengembangan seni dan budaya di Indonesia, ISI Yogyakarta terus mendorong terciptanya ruang pertukaran gagasan antara seniman, kurator, peneliti, dan mahasiswa.

Kehadiran buku Rest Area: Titik Lebur Estetik diharapkan dapat menjadi pemantik diskusi sekaligus refleksi kritis mengenai perkembangan seni rupa Indonesia di masa mendatang.

(naf/kho)