SURAKARTA, ifakta.co – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, meresmikan Pusat Studi Tropical Herbal Medicine Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Peresmian tersebut dilakukan bertepatan dengan puncak peringatan Dies Natalis ke-50 UNS yang digelar di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Rabu (11/3).
Dalam kesempatan tersebut, Rachmat Pambudy menyampaikan apresiasi terhadap kemampuan UNS dalam mengembangkan potensi tanaman obat menjadi produk herbal yang memiliki nilai tambah, salah satunya dalam bentuk ekstrak kapsul.
Iklan
Ia menilai UNS memiliki kapasitas untuk mengekstraksi bahan alami dari tanaman herbal menjadi produk obat yang siap digunakan. Menurutnya, pengembangan ini berpotensi menjadikan UNS sebagai pusat pengembangan herbal tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kawasan regional hingga internasional.
“Kita ingin UNS bukan hanya pusat herbal nasional, tetapi pelan-pelan nanti akan membangun juga untuk kawasan regional. Dan ke depannya UNS menjadi bagian dari pengembangan pengobatan internasional,” ujar Rachmat, seperti dalam laman UNS.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan tersebut, pemerintah memberikan bantuan berupa berbagai peralatan laboratorium. Selain itu, dukungan juga diberikan melalui kesempatan pengembangan pendidikan dan penelitian di bidang obat herbal.
Ia menambahkan, dukungan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, tetapi juga mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang riset dan pengembangan obat berbasis bahan alami.
Menurut Rachmat, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang besar, termasuk lebih dari 2.800 spesies tanaman obat yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan alami. Melalui riset yang tepat, potensi tersebut dapat diolah menjadi produk herbal unggulan.
Pemerintah berharap keberadaan pusat studi tersebut dapat menjadi bagian dari upaya hilirisasi riset tanaman herbal, sehingga pengembangannya tidak berhenti pada penelitian semata, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Sementara itu, Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, menjelaskan bahwa pengembangan pusat studi tersebut merupakan hasil dukungan dari sejumlah kementerian, di antaranya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Kementerian PPN/Bappenas, serta Kementerian Kesehatan.
“Kita ditunjuk dan diresmikan oleh Menteri PPN/Bappenas RI untuk mengembangkan pusat pengembangan tropical health medicine,” kata Hartono.
Sebagai bagian dari pengembangan tersebut, UNS juga berencana membangun fasilitas pendukung berupa gedung riset dan uji klinis tanaman herbal. Fasilitas tersebut nantinya juga akan terintegrasi dengan Rumah Sakit UNS yang akan digunakan sebagai lokasi uji klinis.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki sekitar 30.000 jenis tanaman herbal, dan sekitar 9.600 di antaranya memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan obat.
Menurut Hartono, pengembangan potensi tanaman herbal perlu dilakukan secara serius agar tidak hanya menjadi upaya pelestarian, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi kesehatan maupun nilai ekonomi.
“Tidak hanya sekadar melestarikan, tetapi bagaimana potensi tersebut dapat dimanfaatkan sehingga memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” ujarnya.
(naf/kho)



