SEMARANG, ifakta.co – Lumpia merupakan kuliner khas Kota Semarang yang hingga kini tetap menjadi ikon kebanggaan daerah.

Lebih dari sekadar makanan, lumpia Semarang adalah produk akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang hidup dan bertahan lintas generasi.

Dari sisi bahasa, asal-usul nama lumpia mencerminkan percampuran budaya tersebut. Kata lumpia berasal dari gabungan kata “lun” yang berarti gulung dalam bahasa Jawa, dan “pia” yang berarti kue dalam bahasa Hokkien. Perpaduan istilah ini menegaskan bahwa lumpia bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol pertemuan dua kebudayaan yang telah lama hidup berdampingan di Semarang.

Iklan

Sejarah mencatat, lumpia Semarang bermula pada abad ke-19 dari pasangan suami istri berdarah Tionghoa dan Jawa. Dari dapur sederhana merekalah lahir cikal bakal lumpia yang kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai sudut Kota Semarang. Seiring waktu, banyak kedai lumpia bermunculan dan menjadikan makanan ini sebagai identitas kuliner kota.

Pada masa lalu, Semarang memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan Nusantara. Sejak era kerajaan Hindu-Buddha, kota ini telah ramai dikunjungi berbagai etnis pendatang.

Etnis Tionghoa menjadi salah satu kelompok yang paling dominan dan berpengaruh, terutama dalam sektor perdagangan dan kuliner. Dalam konteks inilah lumpia hadir sebagai bagian dari strategi adaptasi masyarakat Tionghoa di tanah Jawa.

Menariknya, lumpia tetap bertahan bahkan pada masa Orde Baru, ketika masyarakat Tionghoa mengalami berbagai pembatasan dalam aktivitas politik, keagamaan, dan budaya.

Di tengah situasi tersebut, industri lumpia justru terus hidup dan berkembang, menjadi ruang aman ekspresi budaya yang diterima luas oleh masyarakat.

Pengakuan terhadap nilai sejarah dan budaya lumpia Semarang akhirnya datang secara resmi pada tahun 2014, ketika lumpia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Penetapan ini menegaskan bahwa lumpia bukan sekadar makanan khas, melainkan warisan budaya yang merekam perjalanan sejarah, toleransi, dan akulturasi.

Resep Lumpia Semarang

Bahan-bahan:

  • 20 lembar kulit lumpia
  • 200 gr rebung rebus, iris halus
  • 100 gr udang rebon, rendam air panas lalu tiriskan
  • 100 gr wortel, iris dadu kecil
  • 150 ml air
  • 2 sdm tepung terigu

Bumbu:

  • 5 butir bawang merah, iris tipis
  • 4 siung bawang putih, iris tipis
  • 2 batang daun bawang
  • 1/2 sdt merica
  • 2 sdm kecap manis
  • 1/2 sdt Sasa Bubuk MSG
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya

Bahan Saus:

  • 1 siung bawang putih, cincang halus
  • 5 buah cabai rawit, iris halus
  • 3 sdm Sasa Saus Sambal
  • 1/2 sdt garam
  • 1 sdm tauco
  • 2 sdm irisan gula merah
  • 1 sdm air jeruk nipis
  • 150 ml air matang

Cara Membuat:

  1. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum.
  2. Masukkan rebung, udang rebon, wortel, dan air. Tambahkan seluruh bumbu dan Sasa Bubuk MSG. Masak hingga bahan matang dan air menyusut. Angkat dan dinginkan.
  3. Ambil selembar kulit lumpia, isi dengan tumisan sayur. Lipat kedua sisi, gulung, lalu rekatkan dengan larutan tepung terigu.
  4. Goreng lumpia hingga berwarna kuning kecokelatan, angkat dan tiriskan.
  5. Saus: Rebus seluruh bahan saus hingga mengental, angkat.
  6. Sajikan lumpia bersama saus.

Tips Penyajian:

  • Sajikan dengan saus petis khas agar cita rasa manis-gurih semakin kuat.
  • Tambahkan acar timun dan wortel untuk sensasi segar.
  • Gunakan rebung segar agar aroma lumpia tidak langu.
  • Panggang lumpia sebagai alternatif lebih sehat.
  • Lumpia juga bisa dibuat versi frozen untuk stok camilan praktis di rumah.

Lumpia Semarang membuktikan bahwa dari dapur sederhana, sebuah cerita besar tentang budaya, sejarah, dan toleransi bisa terus hidup hingga hari ini.

(naf/kho)