JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (3/9) pagi. Rupiah berada di level Rp17.695 per dolar AS atau menguat 68 poin setara 0,38 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah hari ini bergerak searah dengan mayoritas mata uang Asia. Sejumlah mata uang kawasan tercatat menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan.

Yuan China naik 0,03 persen. Dolar Singapura juga menguat 0,03 persen, sedangkan peso Filipina terapresiasi 0,04 persen.

Iklan

Penguatan lebih besar terjadi pada yen Jepang yang naik 0,11 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia mencatat apresiasi sebesar 0,19 persen terhadap dolar AS.

Namun, tidak seluruh mata uang Asia berada di zona positif. Won Korea Selatan melemah 0,05 persen, sedangkan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

Pergerakan mata uang negara maju juga berlangsung beragam. Euro Eropa melemah 0,01 persen dan poundsterling Inggris turun 0,01 persen.

Dolar Australia turut terkoreksi sebesar 0,04 persen. Sebaliknya, dolar Kanada menguat 0,04 persen. Sementara itu, franc Swiss tercatat bergerak datar.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong melihat peluang penguatan rupiah masih terbuka. Menurutnya, dolar AS mengalami koreksi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat dari Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.

“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data pekerjaan AS, ADP, yang lebih lemah. Namun penguatan akan terbatas oleh eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang tinggi,” ujar Lukman kepada wartawan.

Meski berpotensi menguat, rupiah masih menghadapi sejumlah sentimen eksternal. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak mentah dunia dapat membatasi ruang penguatan mata uang Garuda.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis.

Dengan posisi pembukaan di Rp17.695 per dolar AS, pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh perkembangan dolar AS, kondisi geopolitik Timur Tengah, serta dinamika harga minyak mentah dunia.

(den/jo)

Iklan