JAKARTA, ifakta.co — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan militer ke Iran pada akhir Februari 2026, menurut laporan terbaru. Operasi militer yang diklaim sebagai respons atas program nuklir dan ancaman rudal Iran diyakini memicu konflik terbuka antara kedua negara serta berdampak langsung terhadap pasar energi dunia.
Serangan udara dan rudal yang dilancarkan ke pusat komando serta beberapa infrastruktur militer di Iran turut memantik balasan dari Teheran, termasuk peluncuran rudal dan drone ke wilayah Israel serta terhadap basis pasukan AS di kawasan Teluk Persia. Kondisi ini dinilai sebagai eskalasi paling serius antara Israel dan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Iklan
Eskalasi militer tersebut telah langsung dirasakan oleh pasar energi global. Harga minyak mentah acuan bergerak naik, dengan kontrak Brent mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, sementara kekhawatiran akan gangguan pasokan menekan sentimen pasar.
Analis pasar menduga harga minyak bisa mencapai US$80 per barel atau lebih tinggi jika konflik terus berlanjut dan berpotensi mengganggu aliran pasokan utama dunia. Risiko ini muncul meskipun beberapa negara produsen tengah mempertimbangkan peningkatan produksi untuk menstabilkan pasar.
Sumber lain menyebut kemungkinan kenaikan harga minyak hingga sekitar 20% jika perang berlangsung lama, menunjukkan kerentanan pasar energi terhadap ketidakpastian geopolitik.
Penyebab utama kekhawatiran pasar adalah posisi strategis Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menjadi nadi perdagangan minyak dunia. Diperkirakan sekitar seperlima seluruh minyak dan gas cair global melewati selat ini setiap harinya.
Ancaman gangguan atau penutupan jalur ini, baik oleh upaya militer langsung maupun taktik tekanan ekonomi akan dampak besar terhadap pasokan energi global karena banyak negara pengimpor minyak bergantung pada rute ini. Bahkan gangguan kecil saja sering menyebabkan lonjakan “risk premium” di pasar minyak.
Laporan terbaru juga mencatat bahwa negara-negara pengirim kapal kini mulai mengubah rute pelayaran dan menghindari kawasan Teluk karena meningkatnya risiko serangan rudal atau drone, yang turut memperpanjang waktu transportasi dan biaya logistik.
(FA-FZA)



