Preman Gentayangan di Nganjuk, Warga Minta Kapolres Suruh Binmas Keliling Kampung

  • Whatsapp

Poto: Kapolres Nganjuk AKBP Handono Subiakto

ifakta.co, Nganjuk – Tindak pidana kekerasan yang masih kerap terjadi di wilayah Nganjuk, Jawa Timur, membuat sejumlah masyarakat merasa resah dan tidak aman.

Bacaan Lainnya

Warga berharap agar Kapolres AKBP Handono Subiakto memerintahkan Polisi Binmas di masing – masing wilayah untuk secara intens melakukan mobilitas dan melakukan pendekatan secara persuasif.

Empat orang diduga preman kampung yang kerap bikin ulah

“Saya punya anak masih sekolah di SMP, kalau masih ada preman bergentayangan dijalanan, saya jadi takut terjadi apa-apa dengan anak saya,” ungkap Bejo (45 bukan nama sebenarnya) kepada ifakta.co ketika ditanya soal masih marak preman di wilayah Nganjuk, Sabtu 25 Januari 2020 sore.

Bejo berharap kepada Kapolres untuk memerintahkan kepada bawahannya agar melakukan pendekatan kepada tokoh mayarakat maupun tokoh agama untuk membahas soal preman yang masih ada di Nganjuk.

“Ini sudah sangat membahayakan dan sangat darurat dan harus segera diselesaikan masalah preman ini,” tandasnya.

Poto: Tiga tersangka penganiaya tiga orang pelajar

Sebelumnya diberitakan, Polres Nganjuk berhasil menangkap empat preman kampung yang kerap bikin ulah dan selalu mengajak berantem warga.

Selain itu juga tiga pelajar dibawah umur juga menjadi korban penganiyaan yang diduga dilakukan oleh sepuluh orang dewasa. Kedua kejadian itu bermotif tidak jelas.

Sementara itu, Kapolres Nganjuk AKBP Handono Subiakto menyayangkan dua kejadian itu. Padahal ia baru saja menjembatani terbentuknya forum kerukunan untuk seluruh perguruan silat di Nganjuk beberapa waktu lalu.

“Baru saja kami membentuk forum kerukunan pencak silat di Nganjuk dan telah disepakati oleh 13 perguruan silat di wilayah Nganjuk dalam satu Nota Kesepakatan Damai,” kata Kapolres saat menggelar konfrensi pers pengungkapan kasus penganiyaan masyarakat dan 3 pelajar, Jumat 24 Januari 2020.

Namun demikian Kapolres berkomitment akan mengusut tuntas masalah ini agar tidak terjadi lagi penganiayaan dengan dalih apapun. 

Pada kesemapatan itu, Handono juga menghimbau pada seluruh perguruan untuk saling memegang teguh deklarasi yang sudah disepakati bersama.

“Apabila ada kesalah pahaman terkait dengan perguruan hendaknya di selesaikan pada forum yang sudah di bentuk sehingga tidak bertindak secara pribadi,” katanya. (may/hen)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *