JAKARTA, iFakta.co – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Indonesia pada awal pekan mulai mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski jarak pandang dan kualitas udara di sejumlah kawasan membaik, petugas masih melakukan penanganan kebakaran di beberapa provinsi.

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hujan pada Minggu (25/10/2026) dan Senin (26/10/2026) membawa kelegaan bagi warga setelah berbulan-bulan menghadapi kabut asap. Namun, kondisi udara belum sepenuhnya pulih dan asap masih terlihat di beberapa lokasi.

“Hujan turun deras, tetapi kabut asap masih ada,” kata Ronnie Alventa, seorang warga Palangka Raya. Ia menilai kondisi tersebut sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Iklan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melakukan operasi modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di daerah terdampak. Juru bicara BNPB Berton Panjaitan mengatakan tim melakukan 14 penerbangan modifikasi cuaca pada Selasa (27/10/2026).

Dalam operasi tersebut, petugas menyebarkan 22.800 kilogram garam di wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan untuk mendukung pembentukan hujan, dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang tersedia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan karhutla yang masih berlangsung. Hujan dapat membantu meredakan kondisi kering dan mengurangi asap, tetapi keberhasilannya bergantung pada dinamika cuaca serta kondisi kebakaran di lapangan.

BNPB mencatat lebih dari 51.000 personel telah dikerahkan untuk menangani kebakaran di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Luas lahan yang masih dalam penanganan mencakup sekitar 1.140 hektare di Kalimantan Tengah, 391 hektare di Kalimantan Barat, 35 hektare di Kalimantan Selatan, serta 23 hektare di Sumatera Selatan.

Berton menjelaskan bahwa Indonesia juga menjajaki dukungan teknologi dari negara lain untuk memperkuat pemadaman. Bantuan yang dibicarakan mencakup peralatan khusus, termasuk helikopter berkapasitas angkut air besar yang dapat mendukung operasi pemadaman dari udara.

“Yang kami butuhkan adalah teknologi yang saat ini belum kami miliki,” ujar Berton saat menjelaskan kebutuhan dukungan tersebut.

BNPB juga menyebut penggunaan es kering dapat membantu meningkatkan jarak pandang di area yang tertutup asap, sehingga operasi pemadaman dari udara berpeluang berjalan kembali ketika kondisi memungkinkan.

“Es kering efektif bukan untuk memadamkan api, melainkan untuk meningkatkan jarak pandang,” kata Berton.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan masih berpotensi turun hingga akhir pekan. Kondisi tersebut membuka peluang perbaikan kualitas udara, meskipun awal musim hujan diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak seragam di setiap wilayah.

Direktur Layanan Informasi Cuaca BMKG Andri Ramadhani mengingatkan bahwa Indonesia masih berada dalam masa peralihan menuju musim hujan. Karena itu, perubahan cuaca belum dapat dianggap sebagai tanda bahwa seluruh titik kebakaran sudah padam.

Masyarakat di wilayah terdampak perlu tetap mengikuti informasi kualitas udara dan peringatan resmi. Warga yang mengalami gangguan akibat asap sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.

Penanganan karhutla masih membutuhkan pemantauan di lapangan, pemadaman berkelanjutan, dan koordinasi lintas instansi. Perbaikan cuaca menjadi perkembangan positif, tetapi kondisi akhir tetap bergantung pada keberhasilan pemadaman dan perkembangan hujan dalam beberapa hari mendatang.

(wl/wl)

Iklan