SEMARANG, ifakta.co – Sepuluh mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Calon Guru Prodi Pendidikan IPS Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang tergabung dalam Kelompok 2 mendampingi lima pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Gajahmungkur, Kota Semarang, untuk bertransformasi digital.
Program bertajuk “Larisin UMKM” ini berlangsung pada 11 September hingga 20 Oktober 2026 dan dilaksanakan sebagai Projek Kepemimpinan di bawah bimbingan dosen pembimbing Atno.

Pendampingan dilakukan secara door-to-door: tim datang ke lokasi usaha, mendengarkan kebutuhan pemilik, lalu menerapkan solusi bersama. Lima UMKM mitra adalah Warung Nasi Rames Bu Yanto, Rahayu Laundry, Roti Bakar Sampangan, Warung Ramesan Bu Nur, dan UMKM Sol Sepatu Stonen.
Iklan
Hasilnya, kelima UMKM kini terdaftar di Google Maps dan memiliki banner usaha dengan desain yang disesuaikan dengan jenis usahanya. Selain itu, program juga menyasar penyediaan QRIS sehingga para pedagang dapat menerima pembayaran non-tunai. Roti Bakar Sampangan juga memperoleh buku menu cetak dan stiker gerobak.
Selain itu, kelima pelaku usaha mendapat edukasi pencatatan keuangan berbantuan kecerdasan buatan (AI) beserta panduan cetak, dan usaha mereka didokumentasikan dalam foto serta video produk.
Program ini dilatarbelakangi kontribusi besar UMKM terhadap perekonomian nasional, yang menurut Kementerian Koperasi dan UKM (2022) mencapai 60,3 persen PDB, sementara baru sekitar 19 hingga 24,5 persen pelaku UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital.
Survei awal tim pada 12–25 Agustus 2026 menunjukkan bahwa tidak satu pun dari lima UMKM mitra memiliki QRIS maupun lokasi di Google Maps, dan pencatatan keuangannya masih manual atau belum terstruktur.
Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Poin 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya semangat Target 9.3 untuk memperluas akses usaha kecil terhadap layanan keuangan dan pasar.
“Kami datang langsung ke lokasi usaha, mendengarkan dulu apa yang dibutuhkan pemiliknya, baru menentukan solusi. Dari situ kami belajar bahwa pendampingan yang baik berangkat dari kebutuhan nyata pelaku usaha, bukan dari asumsi kami,” ujar, Jumat (23/10)
Mafaza, Ketua Kelompok 2 PPG IPS UNNES. Tim mengakui dampak ekonomi seperti kenaikan omzet belum diukur karena waktu pendampingan yang singkat. Pemasangan QRIS untuk tiga UMKM lainnya direncanakan sebagai program lanjutan, disertai pemantauan berkala.
Sumber: Mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Calon Guru Prodi Pendidikan IPS Universitas Negeri Semarang (UNNES)
(unnes/naf)






























