JAKARTA, ifakta.co – Pemilihan umum Israel dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10). Hasil pemungutan suara akan menentukan peta kekuatan politik di parlemen sekaligus membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan dan penentuan perdana menteri berikutnya.
Berbeda dengan pemilihan langsung untuk memilih kandidat individu, warga Israel memberikan suara berdasarkan daftar partai. Setiap partai kemudian memperoleh kursi di parlemen atau Knesset sesuai hasil pemilu.
Israel menerapkan sistem perwakilan proporsional. Namun, tidak semua partai otomatis mendapatkan kursi. Partai harus melewati ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen dari total suara nasional agar dapat masuk ke Knesset.
Iklan
Partai dengan suara terbanyak juga belum tentu bisa membentuk pemerintahan sendiri. Seorang perdana menteri membutuhkan dukungan sedikitnya 61 anggota parlemen. Hingga kini, belum ada satu partai yang berhasil menguasai mayoritas tersebut sendirian.
Karena itu, partai-partai biasanya harus bernegosiasi untuk membangun koalisi setelah pemilu. Proses tersebut bisa berlangsung selama beberapa hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
“Ada banyak isu yang akan membuat pembentukan koalisi menjadi sangat sulit,” kata peneliti lembaga kajian Council on Foreign Relations (CFR), Elliot Abrams, seperti dikutip dari laman resmi lembaga tersebut.
Sejumlah persoalan diperkirakan menjadi tantangan dalam pembentukan koalisi. Di antaranya, kemungkinan keterlibatan partai-partai Arab dalam pemerintahan, tuntutan kelompok ultra-Ortodoks agar anggotanya dikecualikan dari wajib militer, serta sikap tokoh oposisi terhadap koalisi yang dipimpin Benjamin Netanyahu apabila melibatkan atau mengecualikan kelompok sayap kanan ekstrem.
Abrams menilai peta politik menjelang pemilu kali ini berbeda dari periode sebelumnya. Hasil jajak pendapat juga menunjukkan bahwa arah politik Israel masih sulit dipastikan.
Lantas, siapa saja tokoh yang berpotensi bersaing memperebutkan posisi perdana menteri Israel?
Benjamin Netanyahu
Benjamin Netanyahu masih menjadi salah satu kandidat utama. Partai Likud yang dipimpinnya memiliki catatan panjang dalam politik Israel. Dari 17 pemilu yang diikutinya, Likud tercatat menang sebanyak sembilan kali. Sementara itu, Israel telah menyelenggarakan pemilihan umum sebanyak 25 kali.
Jika Likud dan mitra koalisinya berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas di Knesset, peluang Netanyahu untuk kembali menjabat sebagai perdana menteri akan terbuka.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai kekuatan koalisi Netanyahu tidak lagi sekokoh sebelumnya. Koalisi pemerintahannya semula melibatkan Otzma Yehudit yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, Partai Shas pimpinan Aryeh Deri, serta Partai Zionisme Religius yang dipimpin Bezalel Smotrich.
Namun, susunan koalisi tersebut mengalami perubahan. Pada 2025, Ben Gvir menarik partainya dari koalisi setelah Netanyahu menyepakati gencatan senjata dengan Hamas. Selanjutnya, pada September 2026, Smotrich membentuk aliansi baru bersama Partai Zehut.
Gadi Eisenkot
Gadi Eisenkot juga masuk dalam jajaran pesaing Netanyahu. Mantan kepala staf militer Israel itu mendirikan Partai Yashar setelah meninggalkan parlemen pada Juli 2025 dan keluar dari aliansi National Unity pimpinan Benny Gantz.
Sejumlah survei memperlihatkan persaingan antara Yashar dan Likud. Jajak pendapat Channel 12 memprediksi Yashar memperoleh 23 kursi dan unggul atas Likud. Namun, survei Channel 14 yang dikenal lebih mendukung Netanyahu memperkirakan Likud dapat meraih 30 kursi, sedangkan Eisenkot diprediksi memperoleh 20 kursi.
Nama Naftali Bennett juga masuk dalam bursa calon perdana menteri. Ia pernah memimpin pemerintahan Israel pada Juni 2021 hingga Juni 2022.
Pada tahun sebelumnya, Bennett membentuk partai bernama Bennett 2026. Pada April 2026, partai tersebut sepakat bergabung dengan Yesh Atid, partai yang dipimpin Yair Lapid.
Aliansi itu kemudian didaftarkan ke komite pemilu dengan nama Beyachad. Kelompok tersebut memosisikan diri sebagai gerakan Zionis liberal berhaluan kanan-tengah. Agenda utamanya mencakup reformasi wajib militer agar kelompok ultra-Ortodoks turut berpartisipasi serta upaya menekan biaya hidup.
Yair Golan
Tokoh lain yang berpotensi menantang Netanyahu adalah Yair Golan. Mantan pejabat senior militer Israel itu mendirikan Partai Demokrat dan turut meramaikan persaingan politik menjelang pemilu.
Selain itu, Avigdor Lieberman juga menjadi salah satu figur penting dalam politik Israel. Tokoh sayap kanan tersebut dikenal vokal mengkritik Netanyahu dan disebut mengincar posisi strategis dalam pemerintahan mendatang.
Lieberman mendirikan Partai Yisrael Beiteinu pada 1999. Pada awal pembentukannya, partai tersebut menjadi wadah politik bagi para imigran Yahudi berbahasa Rusia yang baru pindah ke Israel.
Persaingan para tokoh tersebut akan bergantung pada hasil pemilu dan kemampuan masing-masing partai membangun koalisi. Dengan sistem politik Israel yang mengharuskan dukungan mayoritas parlemen, negosiasi antarpartai akan menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang akhirnya memimpin pemerintahan berikutnya.
(tio/tio)


























