JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Senin (26/10/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp18.085 per dolar AS, turun 5 poin atau 0,03 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan tren beragam. Yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing menguat 0,01 persen. Sementara itu, yen Jepang mencatat kenaikan 0,06 persen terhadap dolar AS.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru mengalami pelemahan. Peso Filipina terkoreksi 0,32 persen, sedangkan won Korea Selatan turun 0,07 persen. Dolar Hong Kong juga melemah 0,02 persen dan dolar Singapura terkoreksi 0,01 persen.

Iklan

Pergerakan serupa terlihat pada mata uang negara-negara maju. Euro menguat 0,18 persen, poundsterling Inggris naik 0,07 persen, dan franc Swiss terapresiasi 0,15 persen. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,10 persen dan dolar Kanada turun 0,01 persen.

Di tengah pergerakan tersebut, analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Menurut Lukman, kekhawatiran terhadap eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Situasi tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel.

“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak naik di atas US$100 per barel. Arus keluar dana asing di pasar saham domestik juga masih terus membebani rupiah,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Selain tekanan dari kenaikan harga minyak, arus keluar dana asing di pasar saham domestik turut menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian global.

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10/2026).

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik, dinamika harga minyak dunia, serta aliran modal asing di pasar keuangan domestik.

(may/may)

Iklan