JAKARTA, ifakta.co – Sebuah slogan berbahasa Arab dan Prancis, “Bismillah, c’est les ténèbres”, menjadi perbincangan di tengah gelombang demonstrasi pelajar di Prancis. Ungkapan yang berarti “Dengan nama Allah, ini kegelapan” itu ramai beredar di media sosial karena susunan katanya dinilai janggal.
Slogan tersebut muncul pada sejumlah aksi blokade sekolah. Para pelajar menuliskannya di papan kardus yang dipasang di depan sekolah. Selain itu, ungkapan tersebut juga menjadi bahan video parodi yang telah dibagikan puluhan ribu kali.
Aktivis Swedia, Greta Thunberg, turut mengucapkan slogan itu saat mengunjungi pelajar yang menggelar aksi mogok di Prancis. Penyebarannya kemudian meluas hingga demonstrasi di sejumlah negara Eropa.
Iklan
Slogan Janggal Jadi Bahan Ejekan
Di kalangan pelajar, kejanggalan slogan itu justru memicu ejekan. Mereka menduga ungkapan tersebut dibuat oleh seseorang yang berusaha meniru bahasa anak muda, tetapi gagal menggunakannya secara alami.
Secara harfiah, kata “Bismillah” berasal dari bahasa Arab dan berarti “dengan nama Allah”. Umat Islam lazim mengucapkannya sebelum memulai suatu kegiatan. Dalam percakapan informal di Prancis, kata tersebut juga dapat digunakan untuk mengajak seseorang memulai sesuatu.
Adapun frasa “c’est les ténèbres” berarti “ini kegelapan”. Dalam bahasa gaul anak muda Prancis, ungkapan tersebut dapat menggambarkan keadaan yang buruk atau suram.
Ketika kedua frasa itu digabungkan, maknanya menjadi tidak lazim. Perpaduan “Bismillah” dan “c’est les ténèbres” inilah yang kemudian menarik perhatian pengguna media sosial dan menjadikan slogan tersebut bahan olok-olok di tengah aksi demonstrasi.
Tangkapan Layar Snapchat Picu Dugaan Penyusupan
Asal-usul ungkapan itu mulai ramai dibicarakan setelah tangkapan layar percakapan Snapchat beredar pada awal Oktober. Saat itu, sejumlah pelajar menggunakan aplikasi tersebut untuk berkoordinasi mengenai rencana blokade sekolah.
Dalam salah satu tangkapan layar, seorang pengguna bernama “Mamadou” meminta bergabung dengan sebuah grup percakapan. Pesan yang dikirimnya berbunyi, “Hai, demi Tuhan, ini kegelapan. Kapan blokadenya, Wallah, bro?”
Pesan tersebut disertai emoji bendera Aljazair. Tangkapan layar lain memperlihatkan akun serupa yang menanyakan lokasi blokade serta informasi mengenai penjualan kembang api dan granat asap.
Sejumlah pelajar menilai penggunaan bahasa Arab, bahasa gaul jalanan, dan simbol nasional dalam pesan-pesan itu terasa tidak wajar. Mereka kemudian menduga akun tersebut mungkin digunakan oleh polisi yang menyamar sebagai remaja untuk masuk ke grup percakapan tertutup para demonstran.
Namun, dugaan penyusupan itu belum terbukti. Polisi maupun Kementerian Dalam Negeri Prancis belum memberikan komentar mengenai tangkapan layar yang beredar.
Identitas pemilik akun juga belum terverifikasi secara independen. Begitu pula klaim sejumlah pengguna internet yang menyebut akun tersebut terlacak ke lokasi dekat kantor polisi. Hingga kini, klaim itu belum memperoleh konfirmasi.
Di sisi lain, sebagian tangkapan layar yang beredar diduga merupakan tipuan atau parodi. Karena itu, asal-usul slogan “Bismillah, c’est les ténèbres” dan kaitannya dengan dugaan penyusupan aparat masih belum dapat dipastikan.
Gelombang Protes Pelajar Meluas di Prancis
Gelombang protes pelajar Prancis sendiri bermula di Créteil, wilayah tenggara Paris, pada 18 September. Aksi tersebut kemudian menyebar ke berbagai daerah di negara itu.
Para pelajar menyuarakan beragam persoalan pendidikan. Mereka mempersoalkan jam belajar yang panjang, ruang kelas yang terlalu padat, kondisi bangunan sekolah yang buruk, serta ketidakhadiran guru.
Menurut para demonstran, persoalan tersebut memberikan dampak besar terhadap sekolah-sekolah di kawasan pinggiran kota. Wilayah itu banyak dihuni masyarakat kelas pekerja dan komunitas minoritas.
Pada 2 Oktober, sekitar 400 sekolah dilaporkan ditutup akibat aksi blokade, menurut laporan Euro News.
Protes pelajar kemudian berlangsung beriringan dengan demonstrasi nasional pada Sabtu (17/10). Aksi tersebut menentang tingginya biaya hidup dan berujung pada kerusuhan serta penjarahan. Peristiwa itu disebut sebagai salah satu kerusuhan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
Slogan Menyebar ke Sejumlah Negara Eropa
Popularitas slogan tersebut selanjutnya melampaui Prancis. Ungkapan yang semula ramai dalam aksi pelajar itu mulai muncul dalam demonstrasi di sejumlah negara Eropa.
Menurut kantor berita Italia, ANSA, Greta Thunberg mengucapkan slogan tersebut saat mengunjungi para pelajar yang melakukan aksi mogok di Seine-Saint-Denis, wilayah utara Paris, pada 13 Oktober.
Sebelumnya, pada 9 Oktober, slogan serupa terlihat pada spanduk demonstrasi yang dipimpin serikat pekerja di Brussels, Belgia. Aksi tersebut menentang kebijakan pemangkasan anggaran pemerintah.
Dalam demonstrasi di Brussels, para peserta menggunakan slogan itu sebagai bentuk solidaritas terhadap pelajar Prancis. Penggunaannya bukan untuk menyindir dugaan penyusupan polisi ke dalam grup percakapan demonstran.
Di Italia, ANSA melaporkan slogan tersebut muncul dalam demonstrasi mahasiswa di Bologna pada 15 Oktober. Ungkapan yang sama kembali terdengar di Milan pada akhir pekan, 17–18 Oktober, ketika demonstrasi di Piazza del Duomo juga berujung pada penjarahan.
Sementara itu, sejumlah siswa dari sebuah sekolah Prancis di Berlin, Jerman, turut terlihat membawa spanduk bertuliskan “Bismillah, c’est les ténèbres”.
Penyebaran slogan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah ungkapan yang dianggap janggal dapat berkembang menjadi simbol populer dalam aksi protes lintas negara. Meski demikian, dugaan bahwa slogan itu berkaitan dengan penyusupan polisi tetap belum terkonfirmasi.
(cin/cin)







