JAKARTA, ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah pada pembukaan perdagangan Kamis. Tekanan terhadap pasar saham domestik sejalan dengan pelemahan bursa Asia setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) tercatat lebih tinggi daripada perkiraan pasar.
IHSG turun 25,89 poin atau 0,44 persen ke posisi 5.917,13. Pada saat yang sama, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga terkoreksi 2,97 poin atau 0,50 persen ke level 591,62.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG masih bergerak terbatas dalam beberapa waktu ke depan. Namun, investor perlu mencermati sejumlah risiko eksternal yang berpotensi menekan pasar saham.
Iklan
“Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 5.800-6.000. Namun perlu diwaspadai akan penguatan harga minyak yang berlanjut serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Tekanan dari pasar global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan IHSG. Ratna menjelaskan, bursa saham Amerika Serikat melemah setelah data inflasi Consumer Price Index (CPI) melampaui ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan perkiraan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.
Data menunjukkan inflasi CPI AS naik 0,6 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada September 2026. Sementara itu, inflasi inti meningkat 0,3 persen secara bulanan.
Angka tersebut berada di atas perkiraan pasar, masing-masing sebesar 0,6 persen untuk inflasi umum dan 0,2 persen untuk inflasi inti. Pada Agustus 2026, inflasi umum tercatat 0,4 persen, sedangkan inflasi inti mencapai 0,3 persen secara bulanan.
Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi AS mencapai 3,7 persen pada September 2026. Adapun inflasi inti berada di level 2,6 persen. Kedua indikator tersebut juga lebih tinggi daripada perkiraan dan meningkat dibandingkan posisi pada Agustus 2026.
Selain perkembangan inflasi, investor kini menantikan data Producer Price Index (PPI) AS. Indikator tersebut mengukur perubahan harga di tingkat produsen dan menjadi salah satu acuan untuk melihat tekanan harga dalam perekonomian.
Pasar memperkirakan inflasi PPI AS melambat menjadi 5,3 persen secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian Agustus 2026 yang mencapai 5,4 persen.
Investor juga menunggu data penjualan ritel atau retail sales AS. Pertumbuhan penjualan ritel diperkirakan melambat menjadi 0,3 persen secara bulanan pada September 2026, dari 1,2 persen pada Agustus 2026.
Perkembangan data inflasi, harga minyak dunia, dan arah kebijakan suku bunga The Fed akan menjadi perhatian pelaku pasar. Faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor dan menentukan arah pergerakan IHSG dalam perdagangan berikutnya.
(may/sib)







