JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda turun 26 poin atau sekitar 0,14 persen ke level Rp17.978 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.952 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh masih kuatnya dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya keyakinan pasar bahwa bank sentral AS atau The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

Iklan

“Rupiah diperkirakan masih tertekan dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang meningkat menjelang rilis data pekerjaan AS NFP (Non-Farm Payrolls) malam ini,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Menurut Lukman, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turut memperkuat posisi dolar AS di pasar global. Dalam sehari, imbal hasil obligasi tersebut meningkat dari 4,36 persen menjadi 4,49 persen sehingga aset berdenominasi dolar semakin diminati investor.

Ia menambahkan, pelaku pasar kini hampir sepenuhnya memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember tahun ini. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 juga dinilai semakin besar.

Lukman menyebut probabilitas kenaikan suku bunga saat ini telah mencapai sekitar 85 persen. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih berpotensi berlanjut.

Selain kebijakan moneter The Fed, investor juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat melalui Non Farm Payrolls (NFP). Data tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 110 ribu lapangan kerja sepanjang Juni 2026.

Dari sisi domestik, sentimen pasar juga belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Tekanan jual yang masih dilakukan investor asing menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan rupiah.

“Sentimen domestik juga masih belum pulih dari tekanan jual investor asing,” ujar Lukman.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis.

(den/jo)

Iklan