SEMARANG, ifakta.co – Universitas Negeri Semarang menggandeng akademisi dari Jepang dan Bangladesh untuk mengkaji dampak krisis iklim di kawasan pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Desa Morodemak dipilih sebagai lokasi penelitian karena wilayah tersebut terus menghadapi ancaman abrasi dan banjir rob akibat kenaikan muka air laut.

Tim akademisi meninjau langsung kondisi masyarakat pesisir yang hidup di tengah tekanan perubahan lingkungan. Selain itu, mereka juga mempelajari strategi adaptasi warga dalam mempertahankan ruang hidup dan aktivitas ekonomi.

Kajian tersebut melibatkan pakar kebencanaan Prof. Md. Anwarul Abedin dari Bangladesh Agricultural University dan Gulsan Ara Parfin dari Ritsumeikan University. Keduanya bekerja sama dengan dosen dan peneliti FISIP UNNES dalam mengamati dampak perubahan iklim terhadap masyarakat pesisir.

Iklan

Fokus penelitian mengarah pada ketahanan komunitas perempuan nelayan. Salah satu komunitas yang mendapat perhatian yakni Puspita Bahari. Komunitas tersebut aktif memperjuangkan hak perempuan nelayan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.

Delegasi akademisi berdiskusi langsung dengan Ketua Komunitas Puspita Bahari, Masnu’ah. Dalam pertemuan itu, Masnu’ah menjelaskan bahwa masyarakat pesisir terus menghadapi tantangan besar akibat abrasi dan rob.

“Komunitas kami terus menyuarakan advokasi kepada pemerintah dan merangkul masyarakat pesisir lainnya untuk menjaga ruang hidup. Ini juga bagian dari perjuangan kesetaraan gender, agar perempuan nelayan diakui dan mendapat hak yang sama,” ujarnya dalam laman UNNES, Senin (18/5).

Perempuan Nelayan Jadi Garda Depan

Tim peneliti melihat perempuan nelayan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan keluarga dan lingkungan pesisir. Di tengah ancaman tenggelamnya kawasan pesisir, banyak perempuan tetap mencari alternatif ekonomi agar keluarga mereka bisa bertahan.

Selain itu, masyarakat juga mulai menjalankan berbagai strategi adaptasi untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Langkah tersebut mencakup penguatan komunitas, pengelolaan lingkungan, hingga upaya menjaga ekosistem laut.

UNNES menilai pendekatan lintas disiplin penting untuk menghasilkan solusi yang lebih menyeluruh. Karena itu, tim peneliti menggabungkan kajian geografi, sosiologi, dan antropologi dalam penelitian tersebut.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung rekomendasi kebijakan penanganan kawasan pesisir. Selain itu, hasil kajian juga diharapkan membantu pemerintah dalam memperkuat mitigasi bencana di wilayah rawan abrasi dan rob.

Bahas Mitigasi Bencana Internasional

Rangkaian kegiatan berlanjut melalui studium generale internasional bertema mitigasi bencana di Aula Gedung C7 FISIP UNNES, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Forum bertajuk “Resilient and Disaster Mitigation Strategies of Japan and Bangladesh” itu menghadirkan Prof. Md. Anwarul Abedin dan Gulsan Ara Parfin sebagai pembicara utama.

Dalam forum tersebut, Prof. Md. Anwarul Abedin mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga lingkungan dan menghadapi ancaman bencana di masa depan.

“Sebagai generasi muda yang kelak memegang kepemimpinan, kalian punya tanggung jawab menjaga kelestarian bumi, tanah, dan air sebagai sumber kehidupan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Bangladesh dan Indonesia menghadapi tantangan serupa terkait krisis air, cuaca ekstrem, dan penurunan muka tanah.

Sementara itu, Gulsan Ara Parfin memaparkan sistem mitigasi bencana di Jepang. Ia menjelaskan Jepang membangun kesiapsiagaan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Menurutnya, badai menjadi bencana yang paling sering terjadi di Jepang dalam dua dekade terakhir. Namun, gempa bumi tetap menjadi ancaman paling mematikan, terutama setelah tragedi gempa dan tsunami besar pada 2011.

Diskusi juga membahas pentingnya pengelolaan kawasan hutan dan daerah aliran sungai sebagai penyangga ekosistem. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan terlihat aktif berdiskusi selama sesi berlangsung.

Salah satu mahasiswa Pendidikan Geografi, Joan Thalita, menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana lingkungan.

Melalui kolaborasi internasional tersebut, UNNES berharap masyarakat pesisir memiliki kapasitas adaptasi yang lebih kuat. Selain itu, kerja sama lintas negara ini diharapkan mampu melahirkan strategi penanganan krisis iklim yang lebih berkelanjutan di kawasan pesisir Indonesia.

(naf/lex)