IRAN, Ifakta.co – Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan ditutup bagi seluruh negara, meskipun ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Namun, ia memperingatkan bahwa jalur strategis tersebut dapat ditutup bagi pihak yang menyerang Iran pada Minggu (15/03/26).

Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam konferensi pers yang dikutip sejumlah media internasional yang melaporkan sikap terbaru Teheran terkait keamanan jalur energi global tersebut dan menanggapi spekulasi mengenai Iran memblokir jalur energi paling vital di dunia tersebut.

“Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan internasional. Tetapi jika ada negara yang melakukan agresi terhadap Iran, tentu kami memiliki hak untuk mempertahankan diri,” ujar Araghchi.

Iklan

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global. Diperkirakan hampir seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut setiap hari.

Karena peran vitalnya, setiap ancaman penutupan Selat Hormuz selalu memicu kekhawatiran pasar global. Harga minyak dunia bahkan kerap langsung bereaksi ketika ketegangan di kawasan itu meningkat.

Pengamat geopolitik menilai pernyataan Iran kali ini merupakan peringatan diplomatik yang kuat kepada negara-negara yang dianggap memberi tekanan militer maupun ekonomi terhadap Teheran.

Di sisi lain, negara-negara Barat dan sekutu mereka terus memantau perkembangan situasi tersebut karena stabilitas Selat Hormuz sangat menentukan kelancaran distribusi energi global.

Apakah pernyataan Iran ini hanya strategi politik, atau benar-benar sinyal bahwa konflik besar bisa terjadi di kawasan tersebut?

(FA/FZA)