SEMARANG, ifakta.co – Tren jasa titip (jastip) dan layanan antar jemput (anjem) kian marak di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Aktivitas ini tidak hanya menjadi peluang usaha sampingan bagi mahasiswa, tetapi juga memudahkan mahasiswa lain sebagai pengguna jasa karena menawarkan biaya yang relatif lebih murah dibanding layanan komersial pada umumnya.

Jastip merupakan layanan di mana seseorang membantu membelikan barang atau makanan sesuai pesanan pelanggan, kemudian mengantarkannya dengan imbalan jasa tertentu.

Iklan

Sementara itu, anjem atau antar jemput adalah layanan pengantaran orang atau barang dari satu titik ke titik lain, yang biasanya dijalankan secara fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan pengguna.

Salah satu layanan jastip dan anjem yang digeluti mahasiswa datang dari @anjem.id, yang dikelola oleh Regi Aji. Usaha ini mulai berjalan sejak April 2024 dan saat ini dikelola oleh tim berjumlah lima orang, terdiri dari dua mahasiswa aktif dan tiga anggota yang telah lulus.

Regi menjelaskan, Anjem Jastip memanfaatkan berbagai kanal media sosial untuk menjangkau pelanggan. Promosi dan pemesanan dilakukan melalui akun Instagram @anjem.id, menfess Unnes di platform X, serta grup dan komunitas Anjem Jastip Unnes Semarang di WhatsApp.

Menurut Regi, jastip dipilih sebagai usaha sampingan karena fleksibilitas waktu kerja yang memungkinkan mahasiswa tetap fokus pada perkuliahan. Selain itu, penghasilan yang diperoleh dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah di Unnes.

“Kerjanya fleksibel dan hasilnya cukup untuk survive selama kuliah di Unnes,” ujar Regi (2/2).

Tak hanya menguntungkan bagi penyedia jasa, keberadaan anjem dan jastip juga dirasakan manfaatnya oleh pelanggan, khususnya mahasiswa. Biaya jasa yang relatif lebih murah membuat layanan ini menjadi pilihan, terutama bagi mahasiswa yang ingin menghemat pengeluaran namun tetap membutuhkan layanan antar atau titip barang.

Selain keuntungan finansial, Regi menyebut jastip juga memberinya kesempatan memperluas relasi.

Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah kendala yang dihadapi, seperti pelanggan yang tiba-tiba menghilang (ghosting) setelah melakukan pemesanan, serta faktor cuaca yang kerap memengaruhi kelancaran layanan.

Dalam mengatur waktu, anggota tim yang masih berstatus mahasiswa biasanya membuka layanan setelah jam perkuliahan selesai, serta memanfaatkan hari libur dan akhir pekan untuk menerima pesanan.

Lebih lanjut, Regi menuturkan bahwa jastip dan anjem sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup dan perkuliahan. Bahkan, penghasilan dari usaha tersebut kini menjadi sumber utama pemasukan baginya.

“Jastip sangat membantu. Saat ini saya bisa 100 persen mengandalkan penghasilan dari anjem dan jastip,” pungkasnya.’

(naf/kho)