JAKARTA, ifakta.co – Partai-partai Arab Israel berpotensi mencatat pencapaian bersejarah dalam pemilihan umum kali ini. Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru, dua partai utama yang dipimpin warga Arab Israel diperkirakan meraih total 18 kursi di Knesset, parlemen Israel.

Jajak pendapat yang dirilis pada Selasa (27/10) menunjukkan Joint List dan Ra’am berpeluang memperoleh 18 dari 120 kursi yang tersedia. Jika proyeksi tersebut terwujud, perolehan itu akan menjadi yang tertinggi bagi partai-partai Arab Israel sejak mereka mulai memasuki parlemen beberapa dekade lalu.

Pada saat yang sama, persaingan dua blok politik utama diperkirakan berlangsung ketat. Blok oposisi yang dipimpin Partai Yashar pimpinan mantan Panglima Militer Israel Gadi Eisenkot diproyeksikan meraih 51 kursi. Jumlah yang sama juga diperkirakan diperoleh blok Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Iklan

Laporan Channel 12 Israel pada Selasa (27/10) juga memperkirakan tingkat partisipasi pemilih dari kalangan warga Arab Israel mencapai sekitar 80 persen. Angka tersebut melampaui rekor partisipasi sebelumnya yang tercatat pada 1999

Partai Arab Israel Berpotensi Cetak Rekor Kursi

Warga Arab Israel merupakan warga Palestina atau keturunan Palestina yang tetap tinggal di wilayah tersebut ketika perang Arab-Israel pecah pada 1948, tahun berdirinya Israel. Dalam perang itu, lebih dari 700 ribu warga Palestina terusir dari wilayah tempat tinggal mereka yang kemudian dikuasai Israel.

Sebagian warga Palestina yang terusir menetap di Tepi Barat dan Gaza, sedangkan sebagian lainnya tinggal di kamp-kamp pengungsi di negara-negara sekitar. Sementara itu, warga Palestina yang tetap bertahan di wilayah Israel kemudian dikenal sebagai orang Arab Israel atau orang Palestina Israel.

Mereka yang menetap di Israel memperoleh kewarganegaraan negara tersebut sehingga memiliki hak sebagai warga negara, termasuk hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum.

Pemimpin Ra’am, Mansour Abbas, berharap hasil akhir pemilu dapat membuka peluang bagi blok yang menentang Netanyahu untuk membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas sedikitnya 61 kursi. Partainya termasuk dalam kekuatan politik yang berpotensi memengaruhi pembentukan koalisi.

“Dengan jumlah suara yang kita miliki sekarang, tidak ada pemerintahan,” kata Abbas kepada Channel 12 Israel.

Ra’am saat ini menguasai lima kursi di Knesset. Partai tersebut juga pernah menjadi bagian dari koalisi pemerintahan Israel pada periode 2021-2022.

Abbas mengungkapkan, dua blok politik utama Israel telah menghubungi partainya, baik sebelum maupun setelah pemungutan suara. Komunikasi tersebut memperlihatkan potensi peran partai-partai Arab dalam menentukan arah pembentukan pemerintahan berikutnya.

Mantan Duta Besar Israel Alon Pinkas menilai pembentukan pemerintahan dapat menjadi tantangan bagi kelompok yang dipimpin Eisenkot apabila mereka memenangkan pemilu. Pasalnya, selama masa kampanye, kelompok tersebut telah berjanji tidak akan membentuk koalisi dengan partai-partai Arab.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Pinkas mengatakan sikap tersebut dapat mempersempit pilihan oposisi untuk membentuk pemerintahan apabila gagal meraih mayoritas kursi di parlemen.

“Ada harga yang harus dibayar,” kata Pinkas. Ia menilai warga Arab tidak dapat terus diabaikan dan hanya dilibatkan ketika suara mereka diperlukan untuk membentuk pemerintahan.

Menurut Pinkas, partai-partai yang dipimpin warga Arab kemungkinan akan mengajukan sejumlah tuntutan politik sebagai syarat untuk memberikan dukungan. Namun, tuntutan tersebut berpotensi sulit diterima oleh koalisi pemerintahan yang didominasi kelompok Yahudi.

Di sisi lain, Netanyahu dan koalisi sayap kanannya memperingatkan para pendukung mengenai meningkatnya partisipasi pemilih dari kalangan warga Palestina di Israel. Sejumlah politikus Arab mengecam pendekatan tersebut karena menilainya rasis dan provokatif.

Netanyahu juga mengunggah pernyataan di media sosial yang menyoroti antrean panjang pemilih di tempat pemungutan suara di komunitas Arab. Ia turut menyebarkan gambar yang diklaim memperlihatkan warga Arab, termasuk perempuan bercadar niqab, sedang menunggu giliran untuk memberikan suara.

“Jika kita tidak segera sadar, kita akan mendapati diri kita memiliki pemerintahan Mansour Abbas dan Ahmad Tibi,” kata Netanyahu, merujuk pada dua politikus Palestina terkemuka di Knesset.

Proyeksi perolehan 18 kursi bagi partai-partai Arab Israel menambah dinamika persaingan politik dalam pemilu kali ini. Dengan kedua blok utama sama-sama diperkirakan meraih 51 kursi, dukungan partai-partai Arab berpotensi menjadi faktor penting dalam menentukan terbentuknya pemerintahan berikutnya.

(tio/tio)

Iklan