Menurut Ibnu, kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi generasi muda untuk masuk ke industri fintech, bukan hanya sebagai pengguna layanan.

“Generasi muda saat ini memiliki kedekatan yang sangat tinggi dengan teknologi digital. Tantangannya, bagaimana ketertarikan itu diubah menjadi kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri,” tutur Ibnu.

Peluang Karier Terus Bertambah

Pertumbuhan industri fintech juga mendorong meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di berbagai bidang. Karena itu, lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri memiliki peluang lebih besar untuk berkarier di sektor ini.

Iklan

Beberapa posisi yang saat ini banyak dicari antara lain Data Analyst, Software Engineer, Fintech Product Manager, hingga Cyber Security Specialist. Selain itu, perusahaan juga terus membutuhkan tenaga profesional yang mampu mengembangkan inovasi layanan keuangan digital.

Meski demikian, Ibnu mengingatkan bahwa prospek karier yang baik tidak hanya bergantung pada pilihan jurusan. Sebaliknya, kemampuan dan pengalaman praktik tetap menjadi faktor utama yang menentukan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.

“Banyak orang melihat fintech sebagai bidang dengan gaji tinggi. Namun yang paling menentukan bukan nama jurusannya, melainkan kemampuan yang dimiliki lulusan saat memasuki dunia kerja,” katanya.

Pentingnya Pembelajaran Berbasis Praktik

Lebih lanjut, Ibnu menilai pemilihan kampus juga berperan penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa. Kampus yang menghadirkan kurikulum terkini dan terhubung dengan kebutuhan industri dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih relevan.

Salah satu contohnya ialah program Company Learning Program (CLP) 3+1 yang diterapkan Cyber University. Program tersebut menggabungkan tiga tahun masa perkuliahan dengan satu tahun pengalaman magang di dunia industri.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori. Mereka juga dapat memahami kondisi nyata industri melalui berbagai studi kasus dan praktik langsung.

“Fintech adalah bidang yang berkembang sangat cepat. Karena itu, mahasiswa membutuhkan ekosistem pembelajaran yang mendukung agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata yang sesuai dengan kebutuhan industri,” ujar Ibnu.

Ke depan, kebutuhan talenta digital di sektor keuangan diperkirakan terus meningkat. Oleh sebab itu, generasi muda dapat mulai mempersiapkan diri dengan menguasai keterampilan yang relevan. Dengan bekal tersebut, mereka memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dan bersaing di tengah perkembangan industri fintech yang terus bergerak cepat.

(naf/lex)

Iklan