MADINAH, ifakta.co – Di banyak rumah Timur Tengah hingga Nusantara, bukhor atau dengan kata lain, dupa harum dari serpihan kayu gaharu, resin, dan rempah yang dibakar bukan sekadar untuk wewangian.

Asapnya dipercaya membawa fungsi yang lebih tua dari sekadar estetika untuk menenangkan ruang, membersihkan aura, bahkan mengusir jin dan gangguan mistis.

Iklan

Kepercayaan ini berakar pada tradisi panjang. Api kecil di tungku mabkhara menyalakan kayu harum, lalu asapnya merambat pelan, menyusup ke sudut-sudut rumah.

Di situlah makna simboliknya bekerja. Asap sebagai perantara, wangi sebagai penenang, dan ritual sebagai penegas batas antara yang kasatmata dan tak kasatmata.

Rumah yang diasapi bukhor diyakini kembali “bersih”, bukan hanya dari bau, tetapi dari energi yang tak diinginkan.

Dalam praktik spiritual, bukhor sering dipadukan dengan doa. Bukan asapnya yang dianggap berkuasa, melainkan niat dan dzikir yang menyertainya.

Wangi gaharu menghadirkan ketenangan batin, membantu fokus, dan menurunkan kecemasan kondisi psikologis yang oleh banyak budaya dipercaya membuat ruang lebih terlindungi dari gangguan.

Di sisi lain, sains memberi penjelasan yang membumi. Aroma tertentu memang memengaruhi sistem saraf, menciptakan rasa rileks dan aman.

Ruang yang harum terasa lebih nyaman, pikiran lebih jernih. Ketika ketenangan hadir, rasa “aura berat” pun memudar. Maka keyakinan lama dan penjelasan modern bertemu di titik yang sama, yakni danebukhor menata suasana.

Akhirnya, bukhor adalah bahasa simbol. Ia tak sekadar asap dan wangi, melainkan ritual kecil yang menegaskan harapan manusia akan rumah yang damai.

Entah dibaca sebagai tradisi spiritual atau terapi aroma, bukhor mengajarkan satu hal ketenangan sering kali lahir dari niat baik, doa yang lirih, dan sejumput wangi yang mengisi udara.(FA)