CHINA, ifakta.co | China semakin menunjukkan ambisinya untuk menjadi pemimpin global dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotika. Setelah sukses mengembangkan kecanggihan di bidang kendaraan listrik, jaringan 5G, hingga eksplorasi luar angkasa, kini Negeri Tirai Bambu resmi memasuki era baru: era robot humanoid.

Pemerintah China bahkan telah menetapkan peta jalan pengembangan robot humanoid sebagai salah satu strategi nasional. Targetnya, pada tahun 2025, robot humanoid sudah bisa diproduksi secara massal untuk berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga layanan publik.

Iklan

Robot humanoid diyakini akan menjadi “mesin produktivitas baru” yang mampu melengkapi tenaga kerja manusia. Dalam beberapa uji coba, sejumlah perusahaan teknologi besar di China telah memamerkan robot berbentuk manusia dengan kemampuan berbicara, berjalan, hingga melakukan pekerjaan sederhana seperti merakit komponen elektronik atau membantu pasien di rumah sakit.

Selain itu, dukungan penuh dari pemerintah melalui investasi besar, regulasi yang jelas, dan ekosistem riset yang kuat membuat perkembangan ini berlangsung sangat cepat. Kehadiran robot humanoid di China diperkirakan tidak hanya meningkatkan efisiensi ekonomi, tetapi juga mengubah wajah interaksi sosial masyarakat di masa depan.

Era baru ini tentu menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, robot humanoid dapat membantu mengatasi krisis tenaga kerja akibat penuaan populasi. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai hilangnya lapangan kerja tradisional, serta isu etika dan keamanan yang menyertai penggunaan robot berbasis AI.

Dengan langkah besar ini, China tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi justru berusaha menjadi pusat revolusi industri robot humanoid dunia. Jika strategi berjalan sesuai rencana, dalam waktu dekat kita mungkin akan melihat robot humanoid buatan China hadir di pabrik, rumah sakit, hingga ruang kelas di berbagai belahan dunia. (FA)