BEIJING, ifakta.co – Samsung Electronics resmi menghentikan penjualan sejumlah produk elektronik rumah tangga dan televisi (TV) di pasar China. Kebijakan tersebut mulai berlaku dalam waktu dekat sebagai bagian dari strategi perusahaan menghadapi tekanan bisnis dan persaingan ketat dari produsen lokal.

Mengutip laporan Korean Times, langkah Samsung mencakup penghentian penjualan berbagai produk elektronik seperti monitor, pendingin ruangan (AC), lemari es, mesin cuci, sistem audio, proyektor hingga penyedot debu.

Keputusan tersebut diambil setelah divisi TV dan peralatan rumah tangga Samsung mengalami tekanan bisnis berkepanjangan di China. Persaingan agresif dari perusahaan teknologi lokal seperti TCL dan sejumlah merek domestik lainnya disebut menjadi faktor utama menurunnya daya saing perusahaan asal Korea Selatan itu.

Iklan

Selain kompetisi pasar, Samsung juga menghadapi tekanan biaya produksi dan ketidakpastian perdagangan global yang dipicu kebijakan tarif Amerika Serikat pada era Presiden Donald Trump.

Meski demikian, Samsung menegaskan tetap berupaya meminimalkan dampak terhadap konsumen dan mitra bisnis yang terdampak kebijakan tersebut. Perusahaan juga tengah mempelajari langkah dukungan yang dinilai paling tepat bagi para partner usaha di China.

Di tengah melemahnya bisnis elektronik konsumen, Samsung sebenarnya masih mempertahankan posisi sebagai produsen TV terbesar di dunia pada tahun lalu. Namun dominasi itu kini mulai mendapat ancaman serius dari merek-merek asal China yang terus memperluas pasar global dengan harga kompetitif dan teknologi terbaru.

TCL misalnya, kini disebut semakin agresif mengembangkan TV generasi terbaru melalui kerja sama strategis dengan Sony.

Sementara itu, Samsung dipastikan tetap melanjutkan penjualan smartphone di pasar China meski persaingan di sektor perangkat seluler juga berlangsung sangat ketat.

Berbanding terbalik dengan bisnis elektronik rumah tangga, sektor semikonduktor Samsung justru mencatat lonjakan keuntungan signifikan. Permintaan global terhadap chip memori dan teknologi kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi pendorong utama meningkatnya laba perusahaan hingga lebih dari tujuh kali lipat.

(muh/min)