JAKARTA, ifakta.co – Rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026.

Berdasarkan data terbaru, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.407 per dolar AS, lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya yang tercatat Rp17.394 per dolar AS.

Kondisi itu membuat rupiah terdepresiasi 13 poin atau sekitar 0,075 persen. Meski pelemahannya terlihat tipis, arah pergerakan ini menegaskan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih belum mereda dalam beberapa hari terakhir.

Iklan

Rupiah Masih Dalam Tekanan

Nilai rupiah melemah 13 poin, sentuh Rp17.407 per USD pada pembukaan perdagangan Selasa, (5/5/ 2026) | GoodStats

Pantauan data Trading Economics pada 5 Mei 2026 pukul 09.10 WIB menunjukkan rupiah berada di Rp17.407 per dolar AS. Sementara itu, Bloomberg Technoz sebelumnya juga mencatat mata uang garuda terus bergerak dalam tekanan seiring penguatan dolar AS di pasar global.

Di sisi lain, indeks dolar AS tercatat naik 0,15 persen ke level 98,52. Penguatan itu menambah beban bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang belakangan belum mampu keluar dari pola pelemahan.

Kondisi pasar juga dipengaruhi harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$110 per barel. Kenaikan harga energi membuat pelaku pasar semakin berhati-hati karena berpotensi memicu tekanan inflasi dan mempersempit ruang penguatan mata uang kawasan.

Pergerakan Sepekan Terakhir

Dalam sepekan terakhir, rupiah terlihat bergerak fluktuatif tetapi cenderung melemah. Pada 21 April 2026, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp17.141 per dolar AS. Setelah itu, pergerakan rupiah sempat menguat dan terkoreksi bergantian sebelum akhirnya kembali tertekan ke posisi Rp17.407 per dolar AS pada 5 Mei 2026.

Pola tersebut menunjukkan depresiasi yang berlangsung bertahap, bukan lonjakan sesaat. Artinya, pasar masih menempatkan rupiah dalam fase rentan karena sentimen eksternal belum sepenuhnya membaik.

Faktor Penekan Rupiah

Sejumlah faktor masih membayangi pergerakan rupiah. Pertama, dolar AS tetap kuat sehingga investor cenderung memilih aset yang dinilai lebih aman. Aliran dana global pun lebih banyak mengarah ke instrumen berbasis dolar.

Kedua, pasar masih meragukan efektivitas kebijakan suku bunga yang ditahan bank sentral sejak Oktober 2025. Keraguan ini membuat kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah belum pulih sepenuhnya.

Ketiga, tekanan juga datang dari sisi perdagangan. Ekspor Indonesia tercatat turun untuk pertama kalinya dalam empat bulan pada Maret, sedangkan impor hanya tumbuh tipis. Kondisi tersebut memperlihatkan aktivitas ekonomi yang belum benar-benar kuat.

Keempat, investor menunggu data Produk Domestik Bruto kuartal I 2026. Pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat dibandingkan kuartal IV 2025, sehingga sentimen hati-hati masih mendominasi perdagangan.

Risiko Domestik Masih Ada

Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari sisi domestik. Cadangan devisa Indonesia dilaporkan berada di titik terendah dalam hampir dua tahun pada Maret, sehingga ruang intervensi bank sentral dinilai lebih terbatas.

Di saat yang sama, inflasi April memang turun menjadi 2,42 persen, level terendah dalam delapan bulan. Namun, risiko tekanan harga belum hilang karena harga minyak dunia masih tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik itu, rupiah masih sulit keluar dari tekanan dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan lanjutan serta data ekonomi terbaru yang dapat memberi sinyal pemulihan atau justru memperpanjang pelemahan.

(joj/my)