BANDUNG, ifakta.co – Universitas Padjadjaran (Unpad) menjalin kerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta Nuraa Women’s Institute dalam pengembangan Women Small and Medium Enterprises (SMEs) Unpad – Nuraa Center.
Kerja sama itu bertujuan memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani di Kantor Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta pada Kamis (12/3).
Iklan
Penandatanganan dilakukan oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Maliki, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama dan Pemasaran Unpad Prof. Rizky Abdulah, serta Presiden Nuraa Women’s Institute Dr. Nurhayati Ali Assegaf.
Penandatanganan tersebut turut disaksikan oleh Menteri PPN/Bappenas Prof. Rachmat Pambudy, Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita, serta Direktur SDGs Center Unpad Prof. Zuzy Anna.
Menteri PPN/Bappenas menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga pemberdayaan perempuan dalam mendukung lahirnya wirausaha baru di Indonesia.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan ke bappenas untuk ikut serta melahirkan entrepreneur baru yang lahir dari pendidikan dan pelatihan dengan wawasan global. Ini akan menjadi sejarah baru kebangkitan entrepreneur perempuan Indonesia,” ujarnya, dikutip dari kanal media Unpad.
Sementara itu, Rektor Unpad menyampaikan bahwa pihaknya merasa terhormat dapat berkolaborasi dengan Kementerian PPN/Bappenas dan Nuraa Women’s Institute dalam upaya memajukan usaha kecil dan menengah, khususnya yang dikelola oleh perempuan.
“Bappenas memiliki peran strategis sebagai arsitek pembangunan nasional yang merumuskan arah pembangunan. Unpad siap mendukung Bappenas dalam menjalankan misi tersebut. Kami pun menyambut amanah ini dengan komitmen untuk menjalankan program sebaik-baiknya,” ujar Rektor Unpad.
Presiden Nuraa Women’s Institute Dr. Nurhayati Ali Assegaf menambahkan bahwa pelaku usaha perempuan masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan usahanya. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan akses terhadap peningkatan kapasitas usaha, pemanfaatan teknologi digital, akses pembiayaan, hingga perluasan jaringan pasar.
“Upaya pemberdayaan perempuan memerlukan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pemberdayaan yang lebih kuat,” ujar Dr. Nurhayati.
Menurutnya, kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas, Unpad, dan Nuraa Women’s Institute melalui pengembangan Women Small and Medium Enterprises (SMEs) Unpad – Nuraa Center merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai sumber daya dan keahlian dalam mendukung peningkatan kapasitas pelaku usaha perempuan di Indonesia.
“Semoga kolaborasi ini dapat menjadi langkah awal yang baik dalam memperkuat pemberdayaan perempuan serta mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih kondusif dan berkelanjutan,” ujar Dr. Nurhayati.
(naf/kho)



