BANYUMAS, ifakta.co – Dosen ahli Bioetika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr.dr. Raditya Bagas Wicaksono atau dr. Bagas, menawarkan perspektif baru dalam layanan perawatan paliatif di Indonesia.

Ia mengembangkan konsep perawatan paliatif berbasis rumah dengan pendekatan etnografi yang menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan medis.

Menurut dr. Bagas, model tersebut lahir dari pemahamannya terhadap karakter budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga. Dalam konteks tersebut, keluarga memiliki peran sentral dalam menentukan arah perawatan pasien dengan penyakit serius.

Iklan

“Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga, pendekatan ini adalah perspektif baru dalam layanan kesehatan yang tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan kearifan lokal di Indonesia,” paparnya, dilansir dari rilis Unsoed (2/3).

Gagasan tersebut merupakan hasil studi doktoralnya di UMC yang terafiliasi dengan University of Amsterdam (UoA), Belanda. Ia mempertahankan disertasi berjudul “Home Palliative Care in Indonesia: An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values.”

Riset tersebut diselesaikannya dalam waktu 3 tahun 9 bulan, lebih cepat dibanding rata-rata masa studi doktoral di Belanda yang umumnya berkisar antara empat hingga delapan tahun.

Pada sidang disertasi yang digelar akhir 2025, komentar dari dosen pembimbing dan penguji internasional lintas disiplin dinilai sangat positif.

Penelitian dr. Bagas dianggap memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, khususnya pada masyarakat dengan keterbatasan sumber daya tetapi memiliki jejaring keluarga yang kuat.

Sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dr. Bagas menyatakan memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia melalui hasil penelitiannya.

“Saya berjanji akan berkolaborasi dengan komunitas untuk mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif budaya lokal. Kami juga sedang menyusun buku panduan komunikasi sensitif budaya untuk pasien penyakit serius berdasarkan temuan penelitian ini,” terang dr. Bagas.

Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed, Dr. dr. MM Rudi Prihatno, M.Kes., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

Ia menilai perspektif yang dibawa dr. Bagas menunjukkan bahwa lulusan Unsoed mampu berkompetisi di tingkat global tanpa meninggalkan akar persoalan bangsa.

“Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dr. Bagas dan keluarga, tetapi juga bagi kami di Unsoed,” pungkasnya.

(naf/kho)