SEMARANG, ifakta.co – Pergerakan tanah yang diduga dipicu hujan deras terjadi di kawasan Jalan Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Peristiwa yang berlangsung sejak akhir Januari 2026 itu mencapai puncaknya pada Selasa malam, 10 Februari 2026, dan menyebabkan belasan rumah warga rusak parah hingga ambruk.
Selain merusak bangunan rumah, kondisi jalan lingkungan di kawasan tersebut juga dilaporkan mengalami kerusakan serius. Namun hingga kini, belum terlihat adanya perbaikan permanen maupun langkah mitigasi menyeluruh dari pemerintah.
Iklan
Ketua RT 07 RW 01, Joko Karyono, mengatakan tanda-tanda pergerakan tanah mulai dirasakan warga sejak 24 Januari 2026. Meski kondisi terus memburuk, penanganan masih bersifat sementara.
“Tanah gerak ini sudah hampir tiga minggu. Sejak 24 Januari sudah ada tanda-tanda pergeseran. Puncaknya tadi malam, beberapa rumah terdampak cukup parah,” ujar Joko saat ditemui di lokasi, Rabu, (11/2).
Ia menjelaskan, satu unit rumah bahkan sengaja dirobohkan secara swadaya demi mencegah risiko korban jiwa.
“Di depan itu ada rumah yang sudah setengah ambruk. Kami ambrukkan sekalian karena sangat membahayakan penghuni,” katanya.
Menurut Joko, peristiwa serupa sebenarnya pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu. Namun, hingga kini kawasan tersebut belum mendapatkan penanganan jangka panjang yang memadai, sehingga bencana kembali terulang dengan dampak yang lebih besar.
“Dulu pernah ada kejadian seperti ini, tapi tidak separah sekarang. Kali ini dampaknya besar, sampai belasan rumah rusak,” ungkapnya.
Data sementara mencatat sedikitnya 15 rumah mengalami kerusakan berat hingga ambruk. Sebanyak 17 kepala keluarga terdampak dan terpaksa mengungsi.
Saat ini, warga yang terdampak mengungsi di posko darurat yang didirikan secara swadaya di mushola setempat. Sebagian lainnya memilih menumpang di rumah kerabat karena khawatir terjadi pergerakan tanah susulan.
“Untuk sementara ada yang mengungsi di posko mushola, ada juga yang ke rumah saudara,” ujarnya.
Meski kawasan terdampak telah ditinjau pihak kelurahan dan BPBD, bantuan yang diterima warga masih terbatas pada kebutuhan darurat. Sementara itu, kondisi jalan dan lingkungan yang rusak belum tersentuh perbaikan permanen.
“Yang kami lakukan masih evakuasi mandiri. Bantuan yang masuk baru sebatas sembako, matras, dan terpal. Jalan yang rusak dan tanah yang terus bergerak ini belum ada penanganan lanjutan,” kata Joko.
Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan, tetapi segera mengambil langkah konkret, termasuk perbaikan infrastruktur dan opsi relokasi bagi warga yang tinggal di zona rawan.
“Harapan kami, ada solusi jangka panjang. Kalau memang tidak aman, warga bisa direlokasi ke tempat yang lebih layak dan aman,” pungkasnya.
(naf/kho)



