JAKARTA, ifakta.co – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memaparkan kronologi terkait diskusi UGM berujung ricuh yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Menurut Sudaryono, kegiatan awalnya dirancang sebagai forum dialog antara pemerintah dan mahasiswa untuk saling bertukar pandangan mengenai berbagai isu yang berkembang di masyarakat.
“Tujuannya dua, simpel saja. Kita memberi tahu dan mencari tahu. Kita memberi tahu apa yang pemerintah lakukan, dan kita mencari tahu aspirasi, pertanyaan, komplain, kesedihan, kekecewaan, maupun kemarahan masyarakat,” kata Sudaryono, Rabu (17/6).
Iklan
Ia mengatakan rombongan pemerintah hadir untuk mendengarkan sekaligus menjelaskan program-program yang sedang dijalankan kepada sivitas akademika dan mahasiswa di Yogyakarta. Sebelumnya, Sudaryono menyebut forum serupa pernah digelar beberapa kali bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko.
Acara disebut berjalan normal selama sekitar 30 hingga 40 menit, dengan paparan awal disampaikan oleh Sudaryono, Nusron, dan Budiman sebelum sesi dialog dibuka.
“Kami sampaikan juga, tanya apa saja. Bahkan kadang kami bilang, adili kami di sini. Secara demokratis kita adu argumen. Tanya, kami jawab. Kalau kurang puas, tanya lagi,” ujarnya.
Situasi berubah ketika sekelompok peserta masuk ke area panggung sambil berteriak. Menurut Sudaryono, kejadian serupa pernah terjadi di forum lain dan biasanya interupsi diberi kesempatan berbicara menggunakan mikrofon.
“Orang masuk panggung teriak-teriak, enggak ada masalah, kita kasih mikrofon. Kamu mau apa? Biasanya kemudian menjadi diskusi,” katanya.
Namun, Sudaryono menilai kelompok yang naik panggung di UGM tidak mengajukan pertanyaan atau aspirasi secara langsung, melainkan mengajak peserta lain untuk ikut naik ke panggung sehingga tujuan dialog terganggu.
“Yang kami dapat bukan pertanyaan, bukan aspirasi, tetapi ada keinginan agar diskusi ini tidak terjadi,” ujarnya.
Peristiwa makin memanas setelah terjadi pelemparan air dan upaya pemukulan. Tim pengamanan kemudian menyarankan Sudaryono dan Nusron untuk meninggalkan lokasi demi keamanan.
” Kami ingin tahu sebenarnya yang membuat marah itu apa. Kalau tidak disampaikan, kami juga tidak mengerti apa yang menjadi persoalannya,” katanya.
Sudaryono membantah adanya adegan kejar-kejaran saat meninggalkan area acara. Ia menjelaskan rombongan sempat masuk mobil dan menunggu, lalu keluar kembali setelah ada yang meminta diskusi.
“Kami keluar, masuk mobil, lalu menunggu di sana. Setelah itu ada yang mencari-cari dan meminta diskusi. Akhirnya kami keluar lagi dari mobil,” ujarnya.
Dialog kemudian berlanjut secara informal di luar kampus, dengan peserta duduk bersama di atas aspal. Dalam pertemuan lanjutan itu, mahasiswa mengajukan pertanyaan tentang kemiskinan, program food estate, hingga isu Pesta Babi di Papua, yang dijawab langsung oleh perwakilan pemerintah.
Sudaryono menyayangkan diskusi formal di dalam ruangan tidak dapat diselesaikan karena hal itu penting untuk dokumentasi dan pertanggungjawaban publik. Meski begitu, ia tidak menyesali kejadian tersebut dan melihatnya sebagai momentum memperkuat komunikasi antara pemerintah dan mahasiswa.
“Saya tidak marah dan tidak menyesal dengan kejadian yang ada di UGM. Saya merasa ini menjadi momentum bagaimana mahasiswa yang pintar-pintar ini bisa terkanalisasi dalam sebuah gerakan yang baik,” ujarnya.
Ia juga menyatakan optimisme terhadap peran mahasiswa dalam mengawal persoalan bangsa, serta menegaskan tugas pemerintah menjawab kepedulian tersebut melalui penjelasan, kinerja, dan solusi.
“Kegalauan mereka, kegundahan mereka, kemarahan mereka itu adalah sikap yang baik karena mereka peduli pada bangsa ini. Tugas pemerintah adalah menjawab kepedulian itu dengan penjelasan, kinerja, dan solusi,” kata Sudaryono.
(



