JAKARTA, ifakta.co – Angka kematian ibu di Indonesia memang terus menunjukkan perbaikan. Meski demikian, tantangan untuk mencapai target pembangunan kesehatan masih cukup besar. Berbagai faktor mulai dari kualitas layanan kesehatan hingga perencanaan kehamilan masih memengaruhi keselamatan ibu selama masa kehamilan dan persalinan.
Pakar obstetri dan ginekologi, Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, menilai penurunan angka kematian ibu patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan.
“Artinya, dalam lima tahun ke depan kita masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target tersebut,” ujarnya.
Iklan
Menurut Dr. Phyowai, keberhasilan menurunkan angka kematian ibu tidak hanya bergantung pada jumlah tenaga kesehatan. Fasilitas pelayanan, sistem rujukan, hingga kemampuan mendeteksi risiko sejak awal juga memegang peran yang sama pentingnya.
“Kita membutuhkan sistem kesehatan yang resilien. SDM yang baik tidak akan optimal apabila sarana-prasarana tidak memadai atau sistem rujukan tidak berjalan dengan baik. Selain itu, kemampuan deteksi dini juga menjadi faktor yang sangat penting,” jelasnya.
Karena itu, setiap komponen pelayanan kesehatan perlu berjalan secara terintegrasi. Dokter, bidan, rumah sakit, hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama harus memiliki koordinasi yang cepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Keterlambatan Penanganan Masih Menjadi Masalah
Dr. Phyowai menjelaskan bahwa tingginya angka kematian ibu tidak selalu dipengaruhi lokasi tempat tinggal. Menurutnya, faktor yang lebih menentukan justru adanya keterlambatan penanganan atau three delays.
Keterlambatan pertama muncul ketika keluarga atau tenaga kesehatan gagal mengenali tanda bahaya kehamilan sejak dini. Selanjutnya, keterlambatan dapat terjadi saat proses transportasi menuju rumah sakit rujukan.
“Hambatannya bisa berbeda-beda. Di Papua misalnya karena faktor geografis, sementara di kota besar bisa karena kemacetan. Bahkan banyaknya pilihan rumah sakit kadang justru menimbulkan kebingungan dalam menentukan tempat rujukan yang tepat,” ungkapnya.
Padahal, kondisi kegawatdaruratan obstetri memiliki periode emas yang sangat menentukan keselamatan ibu dan bayi. Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius.
Selain memperkuat layanan kesehatan, Dr. Phyowai juga menyoroti pentingnya perencanaan kehamilan.
“Di sinilah peran kontrasepsi menjadi sangat penting. Kontrasepsi membantu mencegah kehamilan yang tidak direncanakan sehingga risiko kesehatan ibu dapat ditekan,” tuturnya.
Perencanaan yang matang juga memberi kesempatan bagi pasangan untuk mempersiapkan kondisi fisik, mental, dan ekonomi sebelum menjalani kehamilan.
Penyebab Kematian Ibu Terus Berkembang
Kasus perdarahan, hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, serta infeksi masih menjadi penyebab utama kematian ibu di Indonesia. Namun, Dr. Phyowai melihat adanya perubahan pola yang perlu mendapat perhatian lebih besar.
“Sekarang mulai muncul tren peningkatan kematian akibat penyebab lain, misalnya penyakit jantung bawaan yang baru terdeteksi saat kehamilan,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak cukup dilakukan ketika kehamilan sudah terjadi. Pemeriksaan sebelum kehamilan justru dapat membantu menemukan penyakit yang selama ini tidak terdiagnosis.
Dr. Phyowai mendorong masyarakat untuk menerapkan konsep pre-conception care atau pelayanan kesehatan sebelum kehamilan. Melalui langkah ini, perempuan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga tenaga medis dapat menangani faktor risiko sebelum kehamilan berlangsung.
“Idealnya, seorang perempuan memeriksakan kondisi kesehatannya terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan agar berbagai faktor risiko dapat dideteksi dan ditangani sejak awal,” ujarnya.
Pendekatan tersebut tidak hanya melindungi kesehatan ibu, tetapi juga meningkatkan peluang lahirnya bayi yang sehat.
Upaya menekan angka kematian ibu membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah dapat memperkuat sistem rujukan dan pemerataan layanan kesehatan, sementara tenaga medis meningkatkan deteksi dini serta edukasi kepada masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu membangun kesadaran tentang pentingnya kesehatan reproduksi, pemeriksaan sebelum hamil, serta kontrol kehamilan secara rutin.
Dengan langkah yang berjalan beriringan, risiko komplikasi dapat ditekan lebih cepat sehingga target penurunan angka kematian ibu semakin mudah diwujudkan dan keselamatan ibu maupun bayi dapat lebih terjamin.
(naf/lex)



