JAKARTA, ifakta.co – Tragedi 12 Mei 1998 menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia modern. Insiden penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menjadi titik balik menuju runtuhnya rezim Orde Baru.

Peristiwa ini terjadi di tengah situasi krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak 1997. Krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, serta meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan saat itu mendorong gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah.

Kronologi Tragedi Trisakti

Iklan

Pada 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi damai menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Aksi tersebut awalnya berlangsung tertib di dalam kampus.

Namun, situasi berubah ketika mahasiswa mencoba bergerak keluar menuju Gedung DPR/MPR. Aparat keamanan yang berjaga menghadang massa aksi. Ketegangan pun meningkat di sekitar kampus yang berada di kawasan Grogol, Jakarta Barat.

Menjelang sore hari, aparat mulai melakukan tindakan represif. Tembakan dilepaskan ke arah mahasiswa. Akibatnya, empat mahasiswa Trisakti tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Empat mahasiswa yang gugur dalam peristiwa tersebut adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Kematian mereka memicu gelombang kemarahan publik yang meluas.

Dampak dan Awal Reformasi

Tragedi 12 Mei 1998 segera menyulut aksi demonstrasi yang lebih besar di berbagai kota. Tak lama setelah itu, Indonesia dilanda kerusuhan massal pada 13–15 Mei 1998 yang menelan banyak korban jiwa dan kerugian materiil.

Tekanan publik terhadap pemerintah semakin kuat. Mahasiswa dari berbagai universitas terus turun ke jalan menuntut perubahan sistem politik, pemberantasan korupsi, serta penegakan demokrasi.

Puncaknya terjadi pada 21 Mei 1998, ketika Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran diri setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Momentum ini kemudian dikenal sebagai awal era Reformasi di Indonesia.

Hingga kini, Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 masih menjadi simbol perjuangan mahasiswa dalam menuntut keadilan dan demokrasi. Peristiwa ini juga terus diingat sebagai pengingat pentingnya perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat di Indonesia.

(rin/my)