Soal Sertifikasi Jurnalis Prakerja, Ahli Pers: Ruangguru Bukan Lembaga UKW Dewan Pers

  • Whatsapp

Poto: Sertifikat Jurnalis yang dikeluarkan oleh skill academy ruang guru program prakerja.

ifakta.co, Jakarta – Sertifikat jurnalis besutan program pra kerja milik pemerintah yang dikeluarkan oleh Skill Academy Ruangguru saat ini banyak menuai tanya oleh para pelaku media.

Ahli Pers dan Pengamat Media Drs. Kamsul Hasan, SH.MH. mengatakan, bahwa bila rujukan yang digunakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers, Skill Academy Ruangguru tidak termasuk satu diantara 27 lembaga uji.

“Bila rujukannya KKNI dan BNSP sampai saat ini belum ada modulnya. Saya terakhir ikut tim perumusan pada akhir 2017 tidak tuntas,” kata Kamsul yang juga sebagai staf pengajar diberbagai universitas ini saat dimintai pendapatnya oleh ifakta.co, Jumat (1/5) malam.

Kamsul juga meragukan soal sertifikat itu, apakah bisa dipergunakan untuk melamar di perusahaan pers. Standar kompetensi yang digunakan perusahaan pers sekarang ini adalah sertifikat UKW Dewan Pers.

Sementara itu, salah satu pengajar di Ruangguru untuk kelas jurnalistik Prita Kusumaputeri dikabarkan telah mengajukan protes kepada tim Skill Academy (SA) yang menaungi Ruangguru terkait pelajaran pelatihannya masuk ke program Prakerja.

“Ini jelas berbeda dengan tujuan awal pembuatan kelas itu yang tujuannya untuk berbagi ilmu jurnalistik,” ujar Prita saat dihubungi tempo.co pada Jumat, 1 Mei 2020.

Prita mengaku tak nyaman saat kelas jurnalistik yang ia ajar masuk ke paket ‘Sukses Kerja Sampingan di Masa Corona’.

Bahkan, Prita menyebut tak ada pemberitahuan dari pihak SA atau Ruangguru bahwa kelasnya akan masuk ke dalam program Prakerja. Sebab, pada kesepakatan awal, kelas itu tampil di Skill Academy untuk pembelajaran pribadi.

“Yang mana saya tidak keberatan karena di sana penggunanya menggunakan uang pribadi untuk akses kelas. Beda dengan Prakerja, yang tentunya kita semua tahu menjadi perhatian banyak pihak karena menyangkut APBN,” ucap dia. Alhasil, dia pun telah mengajukan protes kepada pihak SA.

Prita menjelaskan, proses syuting kelas jurnalistik itu sendiri dilakukan sebanyak tiga kali, yakni 25 November 2019, 2 Desember 2019, dan 5 Desember 2019, serta jauh sebelum SA atau Ruangguru ditunjuk sebagai mitra program Prakerja.

Bahkan, Prita mengaku sudah meminta pihak SA agar menurunkan video kelas jurnalistik tersebut. Ia menilai, kelas yang ia ajarkan kurang tepat untuk masyarakat di situasi pandemi wabah Covid-19 saat ini.

“Dan berbeda dengan tujuan awal. Apalagi bila kelas tersebut sampai masuk dalam bundel paket ‘Sukses Kerja Sampingan di Masa Corona’,” kata Prita.


(amy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *