KEDIRI, ifakta.co – Nama Yakuza Maneges mendadak menjadi perbincangan publik setelah dideklarasikan di Kota Kediri, Jawa Timur. Meski mengusung nama yang identik dengan kelompok mafia Jepang, organisasi ini menegaskan memiliki arah yang berbeda.
Yakuza Maneges hadir sebagai gerakan sosial dan spiritual yang fokus merangkul kelompok masyarakat marginal. Komunitas ini mengusung pendekatan dakwah inklusif yang menitikberatkan pada pemberdayaan, bukan penghakiman.
Organisasi ini dipimpin oleh Gus Thuba, tokoh muda yang dikenal memiliki latar belakang kuat dalam tradisi pesantren dan spiritualitas.
Iklan
Ia meresmikan Yakuza Maneges sebagai wadah bagi masyarakat yang selama ini kerap terpinggirkan.
Peresmian komunitas tersebut juga dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, yang menyampaikan apresiasi atas hadirnya gerakan sosial tersebut.
Gus Thuba, yang memiliki nama lengkap Thuba Topo Broto Maneges, mengaku terinspirasi oleh ajaran ulama kharismatik asal Kediri, Gus Miek. Ia mengadopsi pendekatan dakwah yang menekankan keterbukaan dan kedekatan dengan masyarakat akar rumput.
Menurutnya, kelompok yang kerap diberi label negatif justru memiliki potensi besar untuk diberdayakan. Pendekatan ini menjadi fondasi utama gerakan yang ia bangun.
Makna Nama dan Ideologi Organisasi
Pemilihan nama “Yakuza” sempat memicu perhatian publik. Namun, Gus Thuba menegaskan bahwa nama tersebut dipilih dengan kesadaran penuh dan memiliki filosofi tersendiri.
“Di bawah pimpinan saya, organisasi ini berdiri dengan semangat spiritual dan kemanusiaan yang kuat. Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering kita sebut sebagai santri jalur kiri,” jelas Gus Thuba dalam sambutannya, Kamis (14/5/2026).
Ia menambahkan, konsep “santri jalur kiri” merujuk pada kelompok yang selama ini dianggap berbeda atau menyimpang dari arus utama, tetapi tetap memiliki ruang untuk dibina melalui pendekatan yang lebih humanis.
Dengan pendekatan tersebut, Yakuza Maneges berupaya menghadirkan model dakwah yang lebih adaptif terhadap realitas sosial. Organisasi ini juga ingin membangun ruang inklusif bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang.
Kehadiran Yakuza Maneges pun menjadi warna baru dalam gerakan sosial-keagamaan di Kediri, sekaligus membuka diskusi lebih luas mengenai pendekatan dakwah yang lebih merangkul.
(adi/my)




