TANGERANG, ifakta.co – Tragedi kembali terjadi di ruas Jalan Poros Desa Talok–Renged, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Seorang warga Desa Renged berinisial Ad (50) meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal akibat kondisi jalan yang rusak parah, Senin (23/3/2026).

Kondisi jalan yang terbelah dan berlubang dalam sudah lama dikeluhkan warga. Namun hingga kini, belum terlihat adanya perbaikan berarti dari pihak terkait. Jalan tersebut bahkan kerap disebut “jalur maut” oleh masyarakat setempat karena berulang kali memakan korban.

Lebih memprihatinkan, minimnya penerangan jalan membuat kondisi kerusakan nyaris tak terlihat saat malam hari. Gelap gulita memperbesar risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua yang melintas.

Iklan

“Di jalan ini sudah banyak makan korban. Kerusakannya sudah lama, tapi sampai sekarang belum juga diperbaiki. Ini sangat rawan kecelakaan tunggal,” tegas H. Abdul Mukti, tokoh masyarakat Desa Talok sekaligus Ketua Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) Banten.

Ia menilai, lambannya penanganan jalan tersebut seolah mengabaikan keselamatan masyarakat. Warga pun mendesak pemerintah agar tidak lagi menunda perbaikan.

“Saya mohon kepada pihak terkait, baik Kepala Desa, Camat, maupun Dinas Bina Marga, segera merespons keluhan warga. Jangan tunggu korban berikutnya. Prioritaskan perbaikan Jalan Poros Talok–Renged ini,” ujarnya dengan nada prihatin.

Hal senada juga disampaikan Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PKS, Abdul Rohman, S.Kom., M.Pd. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Camat Kresek terkait kondisi tersebut.

“Saya sangat prihatin atas musibah ini. Jalan rusak yang terus memakan korban ini adalah masalah serius dan harus segera ditangani. Tidak boleh ada lagi korban berikutnya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti minimnya penerangan jalan yang dinilai memperparah kondisi. Menurutnya, selain perbaikan fisik jalan, pemasangan lampu penerangan juga harus menjadi perhatian serius pemerintah.

Peristiwa ini kembali menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah agar tidak menutup mata terhadap infrastruktur yang membahayakan nyawa masyarakat. Warga kini hanya berharap, tragedi ini menjadi yang terakhir—bukan sekadar deretan panjang korban akibat jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki.

(Sb-Alex)
PWGK-KRESEK Kabupaten Tangerang