Sementara itu, dampak jangka panjang jauh lebih kompleks. Menurut Emilya, ketahanan pangan dapat melemah. Ketersediaan sumber daya air juga berpotensi menurun. Selain itu, kerusakan ekosistem, kenaikan permukaan laut, hingga kerugian sosial dan ekonomi dapat terus bertambah apabila tidak ada langkah pengendalian.
Karena itu, Emilya menekankan pentingnya memasukkan aspek risiko perubahan iklim ke dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
Ia menjelaskan pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berpotensi meningkatkan emisi karbon sekaligus mengurangi kemampuan alam menyerap karbon. Kondisi tersebut kemudian memicu berbagai persoalan baru, seperti fenomena urban heat island, berkurangnya kawasan resapan air, hingga meningkatnya risiko banjir.
Iklan
Menurutnya, alih fungsi hutan, urbanisasi yang tidak terkendali, pembangunan pada kawasan rawan banjir, permukiman di lereng curam, serta berkurangnya ruang terbuka hijau menjadi beberapa faktor yang memperbesar dampak perubahan iklim.
Sebagai solusi, Emilya mendorong penerapan tata kelola ruang yang memperhatikan daya dukung lingkungan. Strategi tersebut perlu memadukan langkah mitigasi dan adaptasi sekaligus memanfaatkan solusi berbasis alam (nature-based solution).
Ia juga mendorong pengembangan infrastruktur hijau dan biru (blue and green infrastructure) agar wilayah memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap perubahan iklim.
“Hal inilah yang saya nilai mampu meningkatkan ketahanan wilayah terhadap dampak perubahan iklim saat ini,” ujarnya.
Selain itu, Emilya mengingatkan bahwa keberhasilan menghadapi krisis iklim membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Ia menyebut berbagai langkah dapat segera terlaksana, mulai dari menekan emisi gas rumah kaca, memperluas penggunaan energi terbarukan, memulihkan ekosistem mangrove dan lahan gambut, membangun embung sebagai cadangan air, menyusun tata ruang berbasis iklim, hingga meningkatkan literasi masyarakat mengenai perubahan iklim dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Menghadapi perubahan iklim perlu menggabungkan mitigasi dan adaptasi, yaitu mengurangi penyebab perubahan iklim dan mengurangi dampak yang ditimbulkan,” pungkas Emilya.
(naf/lex)


