BOGOR, ifakta.co – Perayaan Hari Raya identik dengan kebersamaan keluarga, suasana hangat, dan momen saling bersilaturahmi.
Namun di balik itu, tidak sedikit orang yang justru mengalami tekanan psikologis, rasa tidak percaya diri, hingga kelelahan fisik dan emosional selama momen Lebaran.
Situasi tersebut kerap muncul saat berkumpul dengan keluarga besar. Pertanyaan-pertanyaan personal seperti “kapan menikah?”, “sudah punya anak?”, hingga “gajimu berapa?” sering kali memicu ketidaknyamanan bagi sebagian orang.
Iklan
Selain itu, perubahan rutinitas yang drastis, padatnya agenda silaturahmi, serta ekspektasi sosial juga dapat meningkatkan tingkat stres.
Psikolog sekaligus dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Nur Islamiah, atau yang akrab disapa Bu Mia, membagikan sejumlah tips untuk membantu masyarakat mengelola stres selama perayaan Lebaran.
Menurutnya, langkah awal yang penting adalah mengatur ekspektasi diri dengan menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries.
“Kita tidak punya kewajiban dan memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Sering kali kita merasa harus selalu tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana,” ujarnya dalam laman IPB, Selasa (17/3).
Ia menjelaskan, di tengah suasana Lebaran yang ramai, seseorang perlu mengenali batas dirinya, termasuk dalam memilih percakapan yang ingin diikuti atau mengambil jeda untuk menenangkan diri.
“Menetapkan batas waktu dan energi untuk bersosialisasi bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan bentuk upaya menjaga kesehatan mental,” paparnya.
Bu Mia juga menekankan pentingnya menyediakan ruang bagi diri sendiri di sela aktivitas silaturahmi. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kestabilan emosi agar tidak mudah lelah atau tersinggung.
“Memberi ruang bukan berarti menjauh, tetapi cara untuk memelihara kapasitas emosional. Tanpa ruang itu, kita lebih mudah merasa lelah, tersinggung, bahkan merasa kosong meski dikelilingi banyak orang,” jelasnya.
Ia menyarankan keseimbangan antara kebersamaan dan waktu pribadi, misalnya dengan menyempatkan waktu singkat untuk beristirahat atau menikmati ketenangan, seperti bangun lebih awal atau sejenak menenangkan diri di kamar.
Terkait tekanan sosial berupa pertanyaan tentang pencapaian hidup, Bu Mia menyarankan untuk merespons dengan jawaban yang sopan namun tetap menjaga privasi.
“Jawaban seperti ini cukup untuk menjaga kenyamanan tanpa harus menjelaskan terlalu banyak,” katanya, mencontohkan respons seperti, “Masih dalam proses, mohon doanya, ya.”
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya mengenali dan menerima perasaan lelah atau tertekan yang mungkin muncul selama perayaan.
“Tidak apa-apa merasa lelah di tengah suasana yang bahagia. Validasi perasaan itu penting. Carilah cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti berjalan sebentar, berwudu, atau mengambil waktu untuk beribadah dengan lebih khusyuk,” ujarnya.
Bagi individu yang merayakan Lebaran seorang diri, Bu Mia menyebut rasa kesepian merupakan hal yang wajar. Ia menyarankan untuk tetap menjaga koneksi dengan orang terdekat, meskipun tidak bertemu secara langsung.
“Hubungi orang yang disayangi, lakukan panggilan video meski hanya sebentar. Yang terpenting, jangan memendam semuanya sendirian,” katanya.
Menurutnya, langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan emosi dan mengurangi rasa kesepian di tengah suasana Lebaran.
Ia menegaskan, perayaan Hari Raya bukanlah ajang untuk menunjukkan kesempurnaan atau kebahagiaan semata.
“Kita tidak harus selalu kuat dan tidak perlu merasa harus sempurna. Memberi ruang untuk diri sendiri justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang matang,” tutupnya.
(naf/kho)



