JAKARTA, ifakta.co – Kementerian Keuangan memastikan kondisi ekonomi Indonesia tetap berada di jalur stabil meski tekanan global masih membayangi. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,11 persen.
Capaian tersebut menjadi fondasi bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan pada 2026 dengan target menembus 6 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, arah ekonomi pada awal 2026 menunjukkan tren positif.
Iklan
Dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Februari 2026, ia memproyeksikan pertumbuhan kuartal I 2026 berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen.
“Momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut kuat sepanjang 2025. Pada kuartal IV saja mencapai 5,39 persen. Ini menjadi landasan penting untuk menjaga akselerasi ke depan,” ujar Purbaya, Senin (23/2/2026).
Meski inflasi Januari 2026 naik ke level 3,55 persen, pemerintah menilai kenaikan tersebut bersifat sementara akibat efek basis rendah tahun sebelumnya. Sementara inflasi inti tercatat relatif rendah di angka 1,33 persen.
Menurut Purbaya, kondisi tersebut membuka ruang bagi pemerintah untuk lebih ekspansif dalam mendorong pertumbuhan tanpa risiko inflasi berlebihan.
“Inflasi inti yang rendah memberi ruang kebijakan yang lebih fleksibel untuk menjaga daya beli dan mendorong aktivitas ekonomi,” jelasnya.
Dari sisi fiskal, defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini dinilai masih terkendali dan relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara kawasan seperti Vietnam yang mencatat defisit 3,6 persen dan Malaysia sebesar 6,41 persen.
Ketahanan eksternal Indonesia juga menunjukkan kinerja solid. Neraca perdagangan mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut, sementara cadangan devisa hingga akhir 2025 mencapai 154,6 miliar dolar AS.
Dengan fundamental makroekonomi yang terjaga serta pengelolaan APBN yang dinilai efektif, pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 6 persen dapat dicapai secara berkelanjutan.
(AMN)



