JAKARTA,- ifakta., — Presiden Prabowo Subianto kembali membuat publik penasaran lewat rencananya memanfaatkan aset hasil korupsi untuk mendanai sejumlah program strategis pemerintah. Wacana ini langsung mengundang perhatian warganet karena cakupannya bukan main: beasiswa LPDP, utang Kereta Cepat Whoosh, hingga pengadaan smartboard untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Dalam pernyataan terbarunya, Prabowo memberi sinyal bahwa pemerintah tak akan membiarkan sepeser pun uang koruptor mengendap tanpa manfaat publik. Ia ingin dana rampasan itu diubah menjadi “mesin pendukung pembangunan”.

“Kita pastikan uang koruptor kembali ke negara dan dipakai untuk rakyat,” ujar Prabowo dalam keterangannya.

Iklan

■ Kenapa LPDP?
Pemerintah melihat kebutuhan beasiswa strategis bakal naik cukup signifikan tahun depan. Dengan beban fiskal yang ketat, dana rampasan korupsi disebut bisa jadi amunisi tambahan.

■ Kenapa Whoosh?
Proyek kereta cepat membutuhkan pembiayaan jangka panjang, termasuk pembayaran utang. Pemerintah ingin kewajiban itu tidak menghimpit APBN. Di titik inilah, uang koruptor disebut bisa menjadi sumber alternatif.

■ Kenapa Smartboard?
Digitalisasi sekolah tak bisa ditunda. Smartboard akan menjadi fasilitas baru yang ingin dipercepat distribusinya. Pembiayaannya disiapkan lewat beberapa skema, dan Prabowo tidak menutup kemungkinan memakai dana hasil tindak pidana korupsi.

Warganet pun ramai berspekulasi. Banyak yang mendukung langkah “menyucikan” uang haram untuk kepentingan publik, namun tak sedikit yang penasaran bagaimana teknisnya nanti. Pemerintah memastikan koordinasi dengan KPK, Kejaksaan, dan Polri sudah disiapkan untuk mempercepat perampasan aset dan pemulihan kerugian negara.

Prabowo menegaskan bahwa era baru pengelolaan dana hasil korupsi butuh keberanian. “Intinya sederhana: uang koruptor harus kembali dan dipakai sebesar-besarnya untuk rakyat.”