BANYUMAS, ifakta.co – Sebabyak lima puluh warga Banyumas kembali mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan setelah sempat meninggalkan bangku sekolah. Sentra Satria Baturraden bersama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Purwokerto membuka program pendidikan kesetaraan jenjang SD, SMP, dan SMA.
Program tersebut mulai berjalan melalui Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) di Sentra Satria Baturraden, Rabu (23/9). Para peserta mengikuti pendidikan melalui tiga jenjang kesetaraan.
Rinciannya, lima peserta mengikuti Paket A yang setara dengan SD. Kemudian, 17 peserta mengikuti Paket B setara SMP. Sementara itu, 28 peserta mengikuti Paket C setara SMA.
Iklan
Program tersebut bernama “Pesona Satria”. Sentra Satria mengusung tagline “Setara Pendidikannya, Berdaya Masyarakatnya”.
Kepala Sentra Satria Baturraden, Darmanto, mengatakan program ini hadir untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan formal. Selain itu, program tersebut turut mendukung upaya pemerintah mengurangi jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Banyumas.
Darmanto menyebut angka ATS di Banyumas masih cukup besar. Pendataan sebelumnya mencatat sekitar 15 ribu anak. Kini, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 7.000 anak.
“(Di Banyumas) itu termasuk banyak. Kemarin didata sekitar 15 ribu (ATS), sekarang menjadi sekitar 7.000 (anak). Kita bantu teman-teman yang ATS supaya bisa sekolah,” kata Darmanto.
Pada tahap awal, Sentra Satria menyasar masyarakat dari lingkungan sekitar lokasi. Namun, pengelola berencana memperluas layanan ke delapan wilayah kerja Sentra Satria.
Sentra Satria menjadi lokasi pembelajaran sekaligus pusat kegiatan. Sementara itu, SKB Purwokerto menjalankan fungsi sebagai mitra penyelenggara pendidikan.
Darmanto menjelaskan, SKB tetap menjadi acuan utama dalam penyelenggaraan pembelajaran. Kurikulum, tenaga pendidik, dan mekanisme belajar mengikuti ketentuan SKB.
Di sisi lain, Sentra Satria turut menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan pendidikan. Pihaknya akan membantu menyiapkan tenaga yang dapat menjalankan peran sebagai tutor, guru, maupun pamong.
“Kami juga akan bantu SDM-nya. Mungkin karena SKB kekurangan, kami nanti diajari menjadi seperti tutor, guru, atau pamong,” ujarnya.
Pesona Satria Tak Hanya Kejar Ijazah
Program pendidikan kesetaraan tersebut tidak hanya mengejar capaian akademik. Peserta juga memperoleh penguatan sosial dan keterampilan vokasional sesuai potensi serta fasilitas yang tersedia di Sentra Satria.
Sejumlah keterampilan masuk dalam program. Peserta dapat mengikuti pelatihan tata boga, barbershop, batik ciprat, kerajinan anyaman, desain grafis, hingga barista.
Dengan pola tersebut, peserta tidak hanya memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan. Mereka juga dapat mengembangkan keterampilan yang bisa menunjang kemandirian ekonomi.
Selain itu, Sentra Satria berencana memperluas sasaran program kepada penyandang disabilitas. Pendataan menunjukkan sekitar 500 penyandang disabilitas berada di wilayah tersebut.
Namun, pengelola belum dapat merangkul seluruh kelompok tersebut pada tahap awal. Sentra Satria akan memasukkan mereka dalam sasaran pengembangan program berikutnya.
Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono turut mengikuti kegiatan secara daring. Ia mengatakan akses pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat kurang mampu.
Menurut Agus, persoalan ekonomi masih menjadi salah satu faktor yang membuat anak tidak memperoleh pendidikan. Karena itu, negara perlu hadir untuk membantu kelompok yang menghadapi kendala tersebut.
“Bagi yang tidak bisa bersekolah karena faktor ekonomi, negara yang akan menyekolahkan, negara yang akan menjemput mereka, dan negara yang akan membiayai,” kata Agus Jabo.
Ia juga menilai perluasan akses pendidikan dapat membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Karena itu, ia berharap SKB mampu menjadi ruang belajar bagi anak yang belum sekolah maupun warga yang sempat berhenti sekolah.
“Di Banyumas masih banyak anak-anak yang belum bersekolah, putus sekolah karena masalah ekonomi. Saya berharap bahwa mulai hari ini kita terus melakukan penjangkauan supaya anak-anak yang tadinya tidak sekolah, belum sekolah, dan belum bisa masuk ke sekolah rakyat karena ada faktor-faktor tertentu, wadahnya adalah SKB,” ujarnya.
Bagi peserta, program tersebut memberikan kesempatan untuk kembali mengejar pendidikan yang pernah tertunda. Waristi (36), peserta Paket B, mengaku senang karena dapat kembali melanjutkan cita-citanya.
Waristi sebelumnya berhenti sekolah karena persoalan ekonomi dan kondisi keluarga. Saat itu, ia memilih mengalah agar adik-adiknya tetap memperoleh kesempatan belajar.
“Saya mengalah agar adik-adiknya tetap dapat bersekolah,” katanya.
Setelah meninggalkan sekolah, Waristi tetap bekerja. Ia juga mengikuti sejumlah pelatihan dan seminar di Balai Latihan Kerja. Setelah itu, ia mengembangkan keterampilan salon hingga mampu membangun usaha secara mandiri.
Sementara itu, peserta Paket A, Virgina (15), kembali mengikuti pendidikan setelah sekitar tiga tahun tidak bersekolah. Sebelumnya, Virgina belajar di pesantren. Namun, ia kemudian berhenti karena merasa kurang cocok dan menghadapi kendala jarak.
Kini, Virgina kembali mengikuti kegiatan belajar melalui program pendidikan kesetaraan. Ia berharap dapat memperoleh ijazah sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Biar dapat ijazah saja, jadi nanti gampang kalau mau daftar ke mana,” kata Virgina.
(naf/lex)


